Ngeri, di Subang Setiap Hari 10-15 Ibu Muda Menjanda

INDRAWAN SETIADI/PASUNDAN EKSPRES Pelayanan di Pengadilan Agama Kabupaten Subang, Senin (30/11). Terjadi lonjakan kasus permohonan perceraian.

SUBANG-Lonjakan kasus perceraian menjadi fenomena sosial di tengah pandemi Covid-19. Puluhan orang dalam satu hari ajukan perceraian. Tercatat, 10-15 perempuan di Subang menjadi janda tiap harinya.

Seketaris Pengadilan Agama Kabupaten Subang, Jajang mengatakan, perceraian tersebut diakibatkan karena berbagai faktor. “Kebanyakan kasus perceraian disebabkan faktor ekonomi dan sudah tidak ada kecocokan lagi,” ungkap Jajang, Senin (30/11).

Jajang mengatakan, selama awal tahun 2020 sampai bulan November terdapat pelonjakan khasus perceraian di Kabupaten Subang.

Karena tingginya permohonan perceraian, Pengadilan Agama Subang tidak mungkin melakukan penutupan pelayanan. “Kami tidak mungkin kalau tutup, sedangkan kasus perceraian terus bertambah tiap harinya,” tambahnya lagi.

Sebagai solusinya, pengetatan protokol kesehatan dilakukan. “Dalam kondisi pandemi Covid-19 pengadilan agama terus menerapkan protokol kesehatan dari mencuci tangan, memakai masker, penempatan di ruang tunggunya kami juga atur. Biasanya kursi untuk 4 orang, sekarang hanya dipakai tiga orang, karena kapasitas kami yang sangat tidak memungkinkan,” jelasnya.

Sebelumnya, Mahkamah Agung sudah mengintruksikan untuk menutup pendaftaran. Tetapi karena masyarakat banyak yang melakukan permohonan cerai, kata dia, pelayanan akhirnya tetap dibuka.

Panitera Pengadilan Agama Subang Dadang Zaenal mengatakan, pengajuan cerai terbanyak dari pasangan muda. Sebagian besar merupakan rumah tangga yang belum berusia panjang.

”Ada cukup banyak ibu muda yang kemudian jadi janda muda setiap harinya, rata-rata 10-15 perempuan di Subang jadi janda. Fenomena ini cukup memprihatinkan karena pasangan suami-istri yang mengajukan permohonan cerai sebenarnya baru berkeluarga,” ujar Dadang Zaenal.

Dia menyebutkan, bila di rata-rata dalam sebulan ada sekitar 350 hingga 500 permohonan perceraian yang diajukan pasangan suami-istri. Sebagian besar yang mengajukan permohonan cerai justru dari perempuan.

“Dengan pengajuan perceraian sebanyak itu, yang akhirnya diputus cerai oleh PA Subang bisa mencapai 350-an per bulan. Kita memutus cerai pasangan tersebut karena upaya mediasi untuk mendamaikan pasangan tersebut, sudah tidak mungkin dilakukan,” tambahnya.

Dengan jumlah permohonan cerai sebanyak itu, Dadang menyebutkan, dalam satu tahun lebih dari 4.200 kasus permohonan cerai yang masuk ke PA Subang.

“Dari Januari hingga November 2020 Pengadilan Agama Subang mencatat ada 4.078 perkara di antaranya, 2.886 perkara gugat cerai dan 1.192 perkara cerai talak,” ungkapnya.

Sedangkan alasan permohonan cerai, menurut Dadang Zaenal, paling banyak disebabkan persoalan ekonomi keluarga sebanyak 2.519 kasus yang kemudian berujung pada pertengkaran pasangan suami istri.

”Pertengkaran ini kemudian menyebabkan salah satu pihak meninggalkan kewajiban serta tanggungjawabnya,” katanya.

Sangat memprihatinkan, pasangan suami istri yang mengajukan permohonan cerai adalah pasangan yang masih berusia 24 tahun sampai 35 tahun dengan jumlah anak satu atau dua orang. Banyak di antara mereka, saat memutuskan menikah tidak memikirkan masalah ekonomi yang akan mereka hadapi.

Lebih dari itu, kebanyakan kasus perceraian yang diajukan justru berasal dari masyarakat pedesaan yang dikenal sebagai kantong buruh migran maupun buruh pabrik serta kantong-kantong ekonomi menengah di Subang seperti di wilayah Subang Utara maupun Selatan.(idr/ysp)

Fenomena Perceraian di Subang

– Per hari puluhan orang ajukan perceraian

– Per hari 10-15 perempuan di Subang menjadi janda

– Permohonan cerai kebanyakan pasangan muda (usia 24-35 tahun)

– Faktor ekonomi salah satu penyebab perceraian

– Sebulan 350-500 permohonan perceraian

– Permohonan cerai justru dari perempuan