KISAH DAN ESENSI QURBAN DALAM IDUL ADHA

KISAH DAN ESENSI QURBAN DALAM IDUL ADHA
0 Komentar

Islam adalah agama yang sarat dengan perintah, ujian dan sekaligus larangan untuk menuju kebaikan. Perintah dilaksanakan sesuai kemampuan manusia sedangkan larangan harus ditinggalkan, sampai yang mengandung keraguanpun harus ditinggalkan. Ibadah qurban adalah perintah dan merupakan rentetan dari ibadah haji di Mekah. Ibadah qurban demikian juga ibadah haji tentu diberlakukan bagi yang mampu, namun pada kenyataannya banyak orang yang mampu tapi tidak juga berqorban dan sebaliknya banyak orang yang tak mampu tapi berqorban. Jadi pada era sekarang, pengertian mampu harus dikolaborasikan dengan kemauan. Kemauan karena didasari dengan Iman kepada Allah swt.

Tersebar sebuah video dalam media sosial whatsapp yang mengisahkan tentang qurban seorang nenek tua yang miskin harta tapi kaya hati. Dikisahkan oleh seorang ustadz yang bercerita tentang salah satu santrinya yang sudah lansia bernama mbah Painem , Dia santri dalam kategori di lingkungannya termasuk paling tidak mampu, tidak memiliki harta yang berharga seperti TV, HP, perhiasan, sepeda, rumahpun terbuat dari bambu dan lantainya masih tanah liat.

Kehidupan yang sederhana, kondisi ekonomi yang sulit tidak menjadi halangan untuk berqurban sebagai kewajiban seorang muslim kepada TuhanNya. Qurban adalah bukti kedekatan hamba terhadap Allah swt. Sang Ustadz memberi closing statement yang menggelitik dan memotivasi bahwa urusan qurban bukan kemampuan saja tetapi kemauan.

Baca Juga:Dewan Guru Lapor Polisi, Mantan Kepala Madrasah Gelapkan Uang TabunganJelang HUT Bhayangkara, Jabatan Kapolres Subang Berganti, Masih Banyak Kasus Belum Terungkap!

Ada kemauan , ada usaha maka berqurbanlah. Mbah Painem punya alasan transendental ketika ditanya : “kenapa Embah suka qurban ?” dan dijawabnya :” agar kelak jika dipanggil Allah swt dalam keadaan penak( Mati yang Enak )”. Dan dia rutin melaksanakan qurban setiap tahun dengan cara memelihara kambing sendiri, yang dipersiapkan untuk qurban. Ada juga kisah dimana Panitia Idul adha taerharu dan menangis ketika seorang pemulung bernama Maman datang ke masjid megah di kawasan elit Tebet mas,Jakarta selatan menyerahkan 2 ekor kambing qurban sedangkan saya sendiri sebagai panitia yang mampu dan kuat tapi belum bisa berqurban, ujar panitia. Dan kambing yang diserahkan oleh pemulung justeru kambing yang paling besar diantara kambing qurban nyang lain.

0 Komentar