KAMPUS MERDEKA INSPIRASI KULTUR AKADEMIK

Oleh : Opan Arifudin
(Dosen Program Studi Ekonomi Syari’ah STEI Al-Amar Subang)

Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing terutama di era revolusi industri 4.0 ini. Fakta bahwa dengan berlangsungnya era revolusi industri 4.0 ini telah merubah tata kelola pekerjaan bahkan menghapus banyak pekerjaan saat ini. Terkait fakta ini yang membuat kekhawatiran bahwa sumber daya manusia kita belum mampu menjadi pelaku dalam semua industri yang ada di negeri ini namun masih sebagai pengguna. Oleh karena itu perguruan tinggi memiliki peran yang sangat vital dalam melahirkan sumber daya manusia unggul di era revolusi industri 4.0.

Dengan era yang menuntut segalanya bergerak lebih cepat ini, perguruan tinggi dituntut untuk melahirkan mahasiswa yang memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan yang kini terjadi di era digitalisasi. Perguruan tinggi harus melahirkan mahasiswa yang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah yang kompleks, berpikir kritis, kreatif, mampu menjadi manajer yang baik serta memiliki kemampuan koordinasi yang baik.

Lulusan perguruan tinggi juga diharapkan harus punya emotional intellegence yang baik, kemampuan menilai dan memutuskan dengan tepat, berorientasi pelayanan, mahir berkomunikasi dan daya kognitif yang fleksibel. Hal ini sebagai pertimbangan dari bidang pekerjaan apa yang mampu bertahan di era Revolusi Industri 4.0. Meskipun era ini mengubah berbagai hal terkait bidang pekerjaan, tetapi ada pekerjaan yang tidak pernah tergantikan oleh kemajuan zaman ini yakni pekerjaan yang membutuhkan daya inovasi dan kreativitas. Perguruan Tinggi harus menyiapkan lulusan dengan kompetensi tersebut.

Dalam penyelanggaran proses akademik di perguruan tinggi, garda terdepan dari lahirnya budaya akademik ini adalah pada diri seorang dosen. Dalam Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 ini menjelaskan bahwa dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Terjemahan dari undang-undang di atas menjelaskan bahwa pengelolaan perguruan tinggi dibangun berdasar 3 (tiga) pilar di atas dalam bingkai tridharma perguruan tinggi yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan, dan Pengabdian Kepada Masyarakat. Sehingga dosen merupakan kunci dari lahirnya substansi perguruan tinggi, sehingga jika perguruan tinggi berkualitas karena didorong oleh Dosen yang berkomitmen pada kompetensi.

Hadirnya kebijakan Kampus Merdeka merupakan langkah awal dari rangkaian kebijakan untuk perguruan tinggi. Mendikbud berharap pendidikan tinggi di Indonesia harus menjadi ujung tombak yang bergerak cepat karena dia begitu dekat dengan dunia pekerjaan. Adapun Mendikbud memutuskan kebijakan Kampus Merdeka ini adalah hasil dari diskusi dari berbagai elemen pendidikan seperti perguruan tinggi, industri, asosiasi, dan lingkup pendidikan lain. Dari hal ini kita dapat memaknai bahwa kultur perguruan tinggi tentu harus mengikuti perkembangan zaman.

Dosen merupakan kunci kultur akademik di perguruan tinggi, untuk sebuah perguruan tinggi dapat melahirkan berbagai inovasi dalam berkompetisi di era revolusi industri 4.0 ini. Perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan penguatan konsep dosen penggerak.

Karena dalam perguruan tinggi bahwa orang yang paling memberikan inspirasi bagi mahasiswa adalah seorang dosen. Oleh karena itu, Dosen harus memiliki target dalam menjalankan profesinya dan ditunjang dengan penghargaan yang layak atas prestasinya.

Kultur akademik ini merupakan budaya atau sikap hidup yang selalu mencari kebenaran ilmiah melalui kegiatan akademik dalam masyarakat akademik yang mengembangkan kebebasan berpikir, keterbukaan, pikiran kritis-analitis, rasional dan obyektif oleh warga masyarakat yang akademik.

akan kampus merdeka pada prinsipnya sudah mengkaomodir karakteristik kultur akademik ini agar melahirkan inovasi. Kampus merdeka ini diharapkan Mendikbud dapat mempercepat inovasi, karena inovasi merupakan tujuan utama perguruan tinggi. Inovasi yang bisa dilakukan seperti inovasi kurikulum, inovasi pengabdian masyarakat dan inovasi dalam riset. Inovasi itu tidak bisa dilakukan tanpa ruang bergerak dan inovasi hanya bisa terjadi di dalam suatu ekosistem yang tidak dibatasi. Mendikbud menekankan bahwa inovasi adalah spirit atau esensi kebijakan Kampus Merdeka.

Dalam upaya mengimplementasikan kebijakan kampus merdeka ini, diperlukan kultur akademik sebuah perguruan tinggi. Ada 3 (tiga) literasi yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0. yakni literasi data, literasi teknologi, dan literasi humaniora. Secara substansial, masa depan Indonesia salah satunya terletak ditangan pendidik, bukan ditangan menteri bahkan presiden. Tenaga pendidik di antaranya dosen memiliki peran penting dalam kemajuan pembangunan nasional. Hal ini bukan tanpa alasan karena dosen sebagai pendidik yang bersentuhan langsung dengan generasi bangsa dalam pembentukan karakter, dan soft skill seperti membaca, menulis, berbicara, berpikir analitik, kreatif dan kritis.
Dosen sebagai motivator dalam pembelajaran juga bertindak pula sebagai inspirator. Motivator yang dapat memberi semangat kepada mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan dan sebagai inspirator yang dapat menginspirasi mahasiswa dengan pengetahuan yang dimilikinya. Kultur akademik ini hanya terjadi jika transfer knowledge dapat diwujudkan dengan transfer budaya literasi dari dosen kepada mahasiswa. Mahasiswa pun idealnya memang bergerak mencari informasi dengan lebih luas tetapi dosen sebagai pendidik sebaiknya mengarahkan mahasiswa untuk mendapatkan informasi yang berkualitas. Dosen yang berkualitas tentu mempunyai berbagai referensi literatur yang dapat menumbuhkan budaya membaca mahasiswanya.

Kultur akademik merupakan suatu subsistem perguruan tinggi yang memegang peranan penting dalam upaya membangun dan mengembangkan kebudayaan dan peradaban masyarakat (civilized society) dan bangsa secara keseluruhan. Unsur penting dalam pendidikan adalah dosen yang membimbing dan mendampingi para mahasiswa. Perlu adanya kesadaran bahwa mahasiswa membutuhkan sosok dosen yang dapat menginspirasi mahasiswa untuk melakukan perubahan.(*)