Selebaran Hina Nabi Kembali Menghantui 

Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si

(Pemerhati Masalah Umat)

Ditengah kepanikan warga pada wabah Corona. Warga Subang malah dihebohkan oleh selebaran yang isinya menghina Nabi. Selebaran tersebut berceceran di Jalan Otista, Kabupaten Subang. Abah Cihideung/Maman Kunceng dari Cisalak, yang namanya ada dalam selebaran tersebut, menyampaikan bahwa dirinya tidak menyebarkan selebaran tersebut. Bahkan, Abah yang ternyata buta huruf itu merasa dirinya telah difitnah.

Selebaran tersebut diunggah pemilik akun Facebook Beat Hawk’s A ke salah satu grup Seputar Subang, Selasa (17/3) kemarin. Pemilik akun itu mengunggah dua gambar yang salah satunya berupa foto sebuah kertas dengan tulisan cetak kapital berisi kalimat menghina dan kata-kata kasar. Sementara di unggahan gambar lain, terlihat selebaran berceceran di jalan. (news.detik.com 19/03)

Sampai saat ini, polisi masih mengusut kasus tersebut. Entah apa motif dibalik penyebaran selebaran tersebut. Namun yang jelas, penghinaan terhadap Nabi di negeri ini kerap terjadi. Sebut saja Sukmawati yang melecehkan Muhammad Saw. Ketua Partai Nasional Indonesia Marhaenisme ini dengan jumawanya mengatakan bahwa Muhammad Saw. tak mempunyai peran terhadap Kemerdekaan RI.

Sebagai umat muslim, tentu akan merasakan sedih yang teramat sangat, saat Nabinya dihinakan. Sosok yang Allah Swt. Hadirkan untuk menjadi tauladan umat manusia, telah dengan mudahnya dihina. Bahkan, bukan hanya sosoknya yang mulia, ajarannya pun sering kali dihinakan. Lihat bagaimana cadar dan suara adzan dihinakan oleh Sukmawati. Namun hingga hari ini, Sukmawati tak pernah tersentuh jeruji.

Para penghina Nabi dan ajarannya kian tumbuh di negeri mayoritas muslim ini. Atas nama kebebasan bertingkah laku dan berpendapat, mereka dengan seenaknya menghina manusia mulia, panutan seluruh kaum muslim. Perilaku bebas semaunya, termasuk menista agama adalah perilaku yang lahir dari pemahaman sekulerisme. Sebuah paham yang memisahkan antara agama dan kehidupan.

BACA JUGA:  Kemaksiatan Berbuah Penyakit HIV AIDS

Bukan hanya paham sekulerisme yang menumbuh suburkan para penghina Nabi, tapi juga sistem sanksi bagi para penghina Nabi yang dinilai tak menjerakan. Bahkan mereka tak takut di Bui, lantaran para pendahulunya pun lolos tak tersentuh hukum.

Oleh karena itu, jika kita menginginkan marwah Rasulullah SAW tetap terjaga dan tak bermunculan lagi para penghina Nabi, harus ada hukum sanksi yang menjerakan si pelaku. Dalam Islam, hukuman bagi para penghina Nabi adalah hukuman mati.

“Ada seorang wanita Yahudi yang menghina Nabi , dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun, Nabi  menggugurkan hukuman apa pun darinya [sahabat itu].” (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Sungguh, hukum yang menjerakan bagi para penghina Nabi, tak mungkin lahir dari hukum yang berlandaskan pada paham sekulersime. Ia hanya akan lahir dari hukum yang berlandaskan pada syariat Allah Swt. (*)