OPINI  

Pojokan 180, Plausible

Pojokan 180, Plausible

Pojokan 180, Plausible

Nasehat itu murah, ada dimana-mana.

Seperti Starbucks keliling (starling) yang dikayuh sepeda, untuk menyebut pedagang kopi keliling, yang bisa ditemukan dimana-mana.

Yang mahal itu menasehati diri.

Percis mahalanya secangkir kopi di tempat tertentu.

Mahal bukan sebab kopinya, justru kadang musabab tempatnya.

Tapi itulah, nasehat hanya seperti kemasan kopi.

Semua orang bisa menjumputnya dimana pun.

Perihal nasehat mahal itu, berkaitan dengan diri sendiri.

Jika boleh saran, jangan pernah membeli nasehat yang mahal.

Lantaran mahal, pemicunya berkaitan dengan apa yang menimpa diri sendiri.

Dan itu rasanya sakit-perih melebihi sayatan apapun.

Lebih parah lagi, jika apa yang menimpa diri sendiri itu tak dianggap sebagai nasehat.

Direspon dengan nafsu dan dendam.

Itu yang mahal dari nasehati diri.

Dan soal nasehat diri, bisa macam-macam.

Semua orang punya macam nasehat diri.

Ada yang positif ada yang negative.

Akar dari nasehat diri adalah cara berpikir.

Cara berpikir negative yang dilandasi emosi, apologie dan distortif bahkan obstruktif (menghalangi).

Atau cara berpikir positif.

Respon cara berpikir itu yang menjadi nasehat dan dasar pengambilan keputusan.

Yang harus diwaspadai adalah keputusan masuk akal menurut ukuran akal sehat atau nafsu.

Sebab itu -akal sehat- yang akan menjadi dasar keputusan dan nasehat.

Akal-pikiran dan nafsu adalah kuda kehidupan kita.

Pikiran mau diajak kemana saja bisa, alhasil pikiran didukung oleh kecendrungan seolah masuk akal.

Kekang dari kuda adalah cara berpikir kita.

Tak terkecuali cara berpikir negative dan positif selalu berebut menguasai kekang kuda.

Perebutan itu menentukan jalannya hidup dan masa depan.

Dan yang susah memang memahami cara berpikir sendiri.

Itulah yang menyandera pikiran.

Pikiran kita kadang tersandera pada Plausible.

Sebuah posisi pembenaran dari sikap yang diambil oleh diri dan dianggap masuk akal.

Baca Juga: Pojokan 179, Perburuan

Plausible, seolah menjadi apologie dari sikap negative diri.

Membenarkan emosi dan kekurangan untuk membela diri.

Plausible selalu berkilah tentang kekurangan diri dan menutup aib.

Menutup diri dari menerima nasehat diri.

Walau kadang plausible menjadi nasehat yang selalu diikuti.

Plausible yang mendukung pikiran negative dan distorsif.

Tak selalu benar, menunduk pada plausible yang seolah masuk akal.

Afirmasi selftalk yang positif kepada orang lain dan diri sendiri menjadi nasehat yang positif.

Nasehat diri yang manjur adalah nasehat yang jujur dan terbuka.

Penuh penerimaan terhadap kekurangan dan kepasrahan diri.

Juga keadaan yang menimpa.

Tanpa harus ber-apologie atau mencari alasan pembenaran diri.

Pun menyalahkan yang lain.

Atau membela kepentingan.

Nasehat yang manjur dari diri sendiri itu sederhana.

Tak terpuruk jika mendapat peristiwa yang menyakiti ego dan kedudukan.

Tak mencari alasan pembenaran dari sikap atau keputusan kita.

Padahal pikiran itu belum tentu benar dan hanya menutupi kekurangan diri.

Memunculkan karakter dan citra diri kita dihadapan publik.

Nasehat diri yang manjur hadir dari kepekaan spiritual.

Kepekaan spiritual yang diasah dari kepekaan sosial dan lingkungan.

Dilandasi kerendahan hati dan keterbukaan untuk menerima masukan dan keadaan.

Menghargai yang lain dan menguatkan kemanusiaan.

Kepekaan spiritual yang menguatkan kepekaan nurani.

Kadang plausible membebalkan nurani.

Nurani sejatinya harus dijaga agar bisa menerima nasehat diri yang manjur. (Kang Marbawi, 10.12.23)