Nelayan Rajungan Tenggelam di Laut Jakarta

KARAWANG-Surip, nelayan rajungan asal Sukajaya dikabarkan terjatuh dari perahu. Sudah lima hari, pria 46 tahun itu hilang. Ia diduga terpeleset dari perahu dan terseret ombak. ABK dan nelayan lain gagal menyelamatkan pria asal Kampung Nelayan Pasirputih di Cilamaya Kulon itu.

“Surip terakhir kali terlihat di belakang perahu. Surip sempat meminta izin buang air besar. Sebelum akhirnya ia tergulung ombak,” kata Pani (29) rekan kerja Surip, Rabu (12/2).
Pani menuturkan, beberapa saat sebelum Surip terjatuh, kapal Sentosa yang dinaiki Surip sedang melaju kencang. Saat itu, kapal sedang berlayar dari perairan Sumatera menuju Jakarta pada Jumat (7/2).

Saat melaju kencang, Surip merasa ingin buang air, kepada rekan-rekannya ia minta izin ke belakang kapal. “Namun kami malah mendengar suara Surip minta tolong,” ujar Pani.
Sejumlah ABK lalu berhampuran ke belakang kapal. Menurut Pani, Surip sempat terlihat berada di air. “Perahu melaju kencang waktu itu. Sekitar 200 meteran Surip teriak-teriak. Kita gegas putar balik, tapi sudah tidak ada. Di cari juga tidak ketemu, mungkin tenggelam terseret ombak,” tutur Pani.

Pani bercerita, seluruh awak kapal kesulitan mencari Surip di permukaan air. Setelah beberapa jam, kapten memutuskan untuk melaporkan kejadian itu ke Polsek Penjaringan, Jakarta Utara. “Kita kemudian laporan ke Polsek Penjaringan. Karena lokasi jatuhnya rekan kami di perairan Kali Adem Penjaringan, Jakarta Utara,” tutur Pani yang saat ini sudah mendarat di Karawang.

Hilangnya Surip membuat kerabat dan nelayan Pasirputih berduka.
Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Perikanan, Sahari menuturkan banyak nelayan Karawang yang ikut mencari Surip. “Saat ini kita terus koordinasi dengan kepolisian dan ikut melakukan pencarian. Nelayan Karawang yang melaut ke arah Jakarta diimbau ikut mencari,” ujar Sahari.

BACA JUGA:  Pintu Muara Dangkal, Nelayan Terpaksa Dorong Perahu

Surip adalah satu dari ratusan nelayan Pasirputih Cilamaya yang kerap mencari rajungan hingga ke perairan Sumatera. Sejak perairan Karawang tercemar minyak mentah Pertamina, rajungan di perairan Karawang menjadi langka. Alhasil, nelayan Karawang berlayar lebih jauh untuk mencari rajungan.

Langkanya populasi rajungan di Karawang mulai terasa sejak Oktober 2019 lalu. Biasanya, rajungan banyak ditemui saat cuaca buruk, berkisar Oktober hingga Maret.

“Meski gelombang besar, kami memaksakan melaut. Padahal BMKG mengimbau untuk tidak melaut. Tapi kami tetap lakukan. Karena rezeki kami justru ada saat cuaca buruk,” kata Masruin, perwakilan nelayan Pasir Putih.

Namun, kata Masruin, semenjak terjadi pencemaran, nelayan rajungan tetap memaksakan melaut. Tapi tangkapan terus merosot. “Sudah tiga bulan tidak ada perubahan,” tutur dia.
Industri rajungan kupas di wilayah Kecamatan Cilamaya Kulon memang menjamur. Bahkan jadi salah satu unggulan Kabupaten Karawang.

Di Desa Sukajaya misalnya, terdapat puluhan rumah yang mengolah daging rajungan menjadi makanan kaleng. Komoditi itu diekspor ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Cina, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, dan negara-negara di kawasan Eropa.

“Di Pasir Putih, ada 120 perahu nelayan yang tidak pernah mengenal musim dan selalu beroperasi. Kalau sedang musim, nelayan Pasir Putih bisa menangkap rajungan 5 ton per hari”, ujar Sekretaris Desa Sukajaya, Ahmad Syaikhu.(aef/sep)