Reliabilisme: Teori Kebenaran dalam Filsafat Ilmu

Reliabilisme: Teori Kebenaran dalam Filsafat Ilmu
0 Komentar

Kedua, reliabilisme lebih dapat mengakomodasi pengetahuan yang diperoleh melalui proses induktif. Pengetahuan induktif adalah pengetahuan yang diperoleh melalui proses generalisasi dari sejumlah kasus khusus. Misalnya, jika kita melihat bahwa semua burung yang kita lihat dapat terbang, maka kita dapat menyimpulkan bahwa semua burung dapat terbang. Teori kebenaran korespondensi tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan induktif. Namun, reliabilisme dapat menjelaskannya dengan mengatakan bahwa proses generalisasi adalah proses yang reliabel.

Ketiga, reliabilisme lebih dapat menjelaskan bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran suatu pernyataan di masa depan. Teori kebenaran korespondensi hanya dapat menjelaskan bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran suatu pernyataan yang ada di masa sekarang. Namun, dalam banyak kasus, kita ingin mengetahui kebenaran suatu pernyataan yang ada di masa depan. Reliabilisme dapat menjelaskan bagaimana kita dapat mengetahui kebenaran suatu pernyataan di masa depan dengan mengatakan bahwa kita dapat menggunakan pengetahuan kita tentang reliabilitas proses untuk memprediksi kebenaran suatu pernyataan di masa depan.

  1. Kelemahan Reliabilisme

Reliabilisme juga memiliki beberapa kelemahan. Pertama, reliabilisme sulit untuk diterapkan dalam praktik. Untuk menerapkan reliabilisme, kita perlu mengetahui reliabilitas dari setiap proses yang menghasilkan keyakinan. Namun, dalam banyak kasus, kita tidak mengetahui reliabilitas dari proses tersebut.

Baca Juga:22 Desember 2023 hingga 2 Januari 2024, Mobil Angkutan Barang Dilarang MelintasAgung Podomoro Land Sinergikan Tiga Proyek Unggulan

Kedua, reliabilisme tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat membedakan antara pengetahuan dan kepercayaan yang benar secara kebetulan. Misalnya, jika kita percaya bahwa matahari akan terbit besok pagi, dan ternyata matahari memang terbit besok pagi, maka kepercayaan kita tersebut benar. Namun, kepercayaan kita tersebut juga bisa benar secara kebetulan. Reliabilisme tidak dapat menjelaskan bagaimana kita dapat membedakan antara kedua kasus tersebut.

Sumber:

Audi, R. (2011). The Cambridge Dictionary of Philosophy. Cambrige: Cambrige University Press.

Goldman, A. I. (1979). “What is Justified Belief?”. In Justification and Knowledge. Dordrecht: D. Reidel Publishing Company.

Kornblith, H. (2002). Knowledge and Its Place in Nature. Oxford: Oxford University Press.

Lycan, W. G. (2003). Philosophy of Language: A Contenporary Introduction. Oxford: Blackwell Publishing.

0 Komentar