Perbedaan utama antara cungkring miliknya dengan cungkring asli Bogor terletak pada goreng tempenya. “Isinya cungur sapi dan kikil bagian pipi, goreng tempe, bumbu kacang, kecap, dan bawang goreng. Bedanya dengan Bogor, saya pakai kering tempe dari produk lokal Bandung,” jelasnya.
Yopi memastikan kualitas rasa dagangannya tetap terjaga dengan cara mengolah bumbu kacang secara dadakan. “Dibuat dadakan supaya lebih enak dan lebih juicy,” tuturnya.
Penampilan Yopi pun cukup nyentrik. Ia mengenakan wearpack montir bertuliskan ‘KULINER TRADISIONAL – INDONESIA – JALUNA’ di bagian punggung. Terdapat pula slogan lain seperti ‘WE’RE A BROTHERFOOD – SUPPORT 1% TRADITIONAL LOCAL STREETFOOD’ serta daftar menu yang terpampang di gerobaknya.
Baca Juga:Posko Pengungsian Longsor Cisarua Membludak, Warga dari Zona Hijau akan Dipulangkan.Banjir Subang Meluas, Dewi Terendam Air Saat Tidur
Sambil bersenda gurau, Yopi berseloroh bahwa dirinya adalah montir yang bekerja di ‘bengkel perut’. “Ya, pakai wearpack supaya beda, punya ciri khas bengkel perut,” ucapnya.
Pria kelahiran Majalengka yang besar di Bandung ini menyebut usaha kulinernya merupakan babak baru setelah ia memutuskan berhenti dari dunia pertelevisian.
“Sebelum jualan, saya bekerja sebagai operator pemancar. Saya bertugas di Bandung, Cisarua, hingga Kolonel Masturi. Saya akhirnya resign karena tidak mau dimutasi ke Jakarta,” pungkasnya.
MUAMMAR QADDAFI
