APTI Nilai Regulasi Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin Bisa Matikan Petani Tembakau Indonesia

APTI Nilai Regulasi Pembatasan Kadar Tar dan Nikotin Bisa Matikan Petani Tembakau Indonesia
APTI menilai regulasi pembatasan kadar tar dan nikotin dapat mematikan petani tembakau-Istimewa-
0 Komentar

Contoh Kemloko (Temanggung): 3-8 persen Mole (Jawa Barat) :1.3-8.36 persen dan Tembakau Madura:1-4%.

Sehingga dampak pembatasan tar dan nikotin akan sangat mengganggu.

“Pada akhirnya industri hasil tembakau tidak bisa menyerap produktivitas petani tembakau. Sementara ada jutaan rumah tangga yang bergantung pada komoditas tembakau,” sebut Yudi.

Serangkaian regulasi yang saat ini mengelilingi tembakau, mulai dari pembatasan penjualan, pembatasan iklan, standarisasi kemasan (kemasan polos) dan pembatasan kadar tar nikotin yang sedang hangat saat ini, menurut pandangan Kementan, berdampak pada serapan varietas tembakau lokal.

Baca Juga:Pertamina Buka Suara 2 Kapal Minyaknya yang Masih Terjebak di Selat HormuzKekhawatiran Cadangan Minyak Imbas Konflik Timur Tengah Dibahas Prabowo Bersama Para Mantan Presiden

“Kementan berupaya melakukan peningkatan produksi dan pemanfaatan komoditas tembakau. Strategi ke depan penting memastikan agar komoditas ini dapat dibudidayakan dengan baik, dan kemauan pemerintah memperkuat riset hilirasi sambil tetap melindungi kesejahteraan jutaan petani dan masyarakat,” ujar Yudi.

Adapun Setiari Marwanto selaku Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan ada banyak faktor penentu kadar nikotin tembakau.

Mulai dari unsur generik, posisi daun pada batang, populasi tanaman, pemupukan dan pemangkasan.

Setiari menambahkan bahwa Indonesia belum siap dengan pembatasan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini.

“Kita belum siap dengan rendahnya kadar tar dan nikotin seperti yang didorong saat ini. Dengan kondisi saat ini, tidak ada varietas lokal kita yang kadar nikotinnya kurang dari 1%. Mulai dari varietas tembakau di Temanggung, Jember, Banyuwangi, rata-rata di kisaran 3 persen – 8 persen,” ujarnya.

BRIN yang selama ini fokus di on farm, sebut Setiari, tahun lalu telah melepas 14 varietas tembakau.

Termasuk membantu para mitra untuk melakukan perakitan varietas baru.

Seperti pada tahun 2024, BRIN bersama Pemkab Temanggung meriset klon tembakau yang tahan genangan air dengan tetap memastikan tidak ada perubahan mutu sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik pada kondisi curah hujan tinggi.

Baca Juga:Jenderal Bintang Dua Israel Ancam Indonesia Tak Urus Perang, Connie Bakrie: Intelejen Mereka KuatTak Semua WNI di Iran Ingin Dievakuasi, Menlu Sugiono: Baru 15 Orang Siap Dipulangkan


“Kami juga sedang melakukan riset dengan Pemkab Temanggung yang tahan kering, masih membutuhkan waktu. Riset kami belum ke arah untuk menurunkan kadar tar dan nikotin. Harus diakui bahwa pemanfaatan tembakau di Indonesia memang lebih banyak untuk penggunaan rokok kretek,” tutup Setiari.

0 Komentar