Di Manchester, Pride bermula secara sederhana pada 1985.
Salah satu kegiatan awalnya bahkan berupa penggalangan dana di kawasan Canal Street untuk membantu memperbaiki bangsal rumah sakit yang merawat pasien HIV dan AIDS.
Namun, dari gerakan kecil tersebut, Manchester Pride berkembang menjadi festival raksasa.
Kota Manchester kemudian menjadi tuan rumah perayaan selama empat hari dengan parade, kendaraan hias, pertunjukan musik dan ribuan pengunjung.
Baca Juga:Saham BMRI Turun di Tengah Gelombang Boikot Bank Mandiri, Ini DatanyaViral! Warganet Serukan Boikot Bank Mandiri Usai Polemik Pembekuan Rekening Aktivis
Pada 2019, skala festival bahkan semakin besar. Ariana Grande tampil sebagai salah satu bintang utama dalam panggung khusus di luar kawasan Gay Village.
Bagi sebagian orang, perkembangan itu merupakan keberhasilan besar. Namun bagi sebagian aktivis, justru di situlah masalah mulai muncul.
Kritik Komersialisasi Makin Keras
Pride mulai dituding terlalu jauh dari akar perjuangannya.
Harga tiket, panggung premium, sponsor korporasi dan keputusan penyelenggara terkait pendanaan badan amal menjadi bahan perdebatan.
Kritik semakin tajam ketika penyelenggara Manchester Pride akhirnya mengalami masalah keuangan dan masuk proses likuidasi sukarela, dengan utang lebih dari £1 juta kepada sejumlah pemasok dan artis, termasuk Nelly Furtado.
Setelah itu, bisnis dan organisasi amal lokal membentuk Manchester Village Pride.
Konsepnya berbeda: festival yang lebih murah, lebih sederhana dan lebih dekat dengan komunitas lokal.
Baca Juga:Harga Emas Hari Ini Bikin Kaget! Harga 1 Gram Nyaris Tembus Rp2,7 Juta, Ini RinciannyaViral di Media Sosial, Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Picu Perdebatan soal Makna Lirik
Carl Austin-Behan, salah satu pihak yang membantu penyelenggaraan acara berskala kecil tahun ini, mengatakan dirinya telah lama merasa frustrasi terhadap arah Manchester Pride.
Menurutnya, ketika kegiatan mulai dipindahkan keluar dari kawasan desa LGBT, muncul tanda bahwa festival tersebut semakin menjauh dari komunitas yang seharusnya menjadi pusat perayaan.
Bukan Hanya Manchester
Perdebatan serupa terjadi di berbagai wilayah Inggris.
London Pride menghadapi kritik mengenai skala acara yang terlalu besar dan kepadatan pengunjung. Sementara Brighton menghadapi tekanan finansial untuk menyelenggarakan konser besar sekaligus memenuhi kebutuhan keamanan dan kepolisian.
Di tengah kondisi tersebut, Pride dengan skala lebih kecil seperti di Crewe mulai terlihat sebagai alternatif.
Bukan festival dengan anggaran fantastis, melainkan acara yang menempatkan komunitas sebagai pusat kegiatan.
