PASUNDANEKSPRES.CO – Apa jadinya ketika sebuah perayaan yang dulu lahir sebagai bentuk perlawanan justru berubah menjadi festival raksasa yang dipenuhi panggung megah, perusahaan besar, dan sorotan komersial?
Pertanyaan itu kembali mencuat di tengah penyelenggaraan Pride 2026 di Inggris.
Di kota kecil Crewe, kisah Matt menjadi salah satu gambaran bagaimana perjalanan Pride telah berubah. Ia meninggalkan kota tersebut saat berusia 18 tahun karena merasa tidak diterima sebagai seorang pemuda gay.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Matt kembali ke Crewe untuk menghadiri Pride komunitas. Suasananya sederhana, jauh dari kemeriahan festival Pride di kota-kota besar Inggris.
Namun, justru kesederhanaan itu yang membuat kepulangannya terasa begitu emosional.
Baca Juga:Saham BMRI Turun di Tengah Gelombang Boikot Bank Mandiri, Ini DatanyaViral! Warganet Serukan Boikot Bank Mandiri Usai Polemik Pembekuan Rekening Aktivis
“Saya benar-benar teringat kembali saat saya masih kecil dan tumbuh besar di sini, mencoba mencari tahu identitas saya. Rasanya sangat penting berada di sana dan melihat bagaimana kota yang tadinya tidak terlalu ramah telah berubah dan berkembang,” kata Matt.
Bagi Matt, Pride kali ini bukan sekadar pesta. Ini adalah simbol perubahan sebuah kota yang dulu membuatnya merasa asing.
Dari Bar Kecil di Balik Tirai
Jika dibandingkan dengan festival Pride modern, kehidupan LGBT di Crewe pada masa lalu terasa jauh lebih tersembunyi.
Salah satu ruang LGBT yang pernah dikenalnya bahkan hanya berupa sebuah bar kecil darurat yang berada di balik tirai di belakang sebuah pub di luar kota.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada parade spektakuler. Tidak ada perusahaan yang berlomba memasang logo pelangi.
Tetapi bagi mereka yang datang, tempat kecil tersebut bisa menjadi ruang untuk merasa diterima.
Kontras inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari perdebatan mengenai masa depan Pride di Inggris.
Baca Juga:Harga Emas Hari Ini Bikin Kaget! Harga 1 Gram Nyaris Tembus Rp2,7 Juta, Ini RinciannyaViral di Media Sosial, Lagu Lalaki Langit Lalanang Bejat Picu Perdebatan soal Makna Lirik
Ketika Pride Berubah Menjadi Industri Besar
Pride pada dasarnya lahir dari perjuangan.
Pawai Pride resmi pertama di Inggris digelar di London pada 1972, beberapa tahun setelah kerusuhan Stonewall di New York pada 1969 menjadi simbol perlawanan komunitas LGBT terhadap diskriminasi dan tindakan aparat.
Saat itu, menjadi gay masih membawa risiko sosial dan hukum yang besar. Homoseksualitas baru didekriminalisasi secara terbatas di Inggris dan Wales pada 1967, sementara diskriminasi terhadap kelompok LGBT tetap berlangsung selama bertahun-tahun.
