3 Idiots

Belajar Filsafat
0 Komentar

Berlanjut di halaman berikutnya…

Ternyata praktek “joki” tersebut ulah Ayah Raccho. Dia berpikir, sebagai orang kaya, tak penting anaknya sekolah atau kuliah. Yang penting anaknya bisa dapat IJAZAH. Dengan punya ijazah dari ICE, anaknya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan bergaji tinggi.

Film “3 Idiots” ini mengeritik tiga hal praktek pendidikan yang mungkin juga terjadi di Indonesia. Pertama, mengeritik rezim kompetensi atau rezim prestasi akademik yang mengabaikan bakat dan potensi siswa. Kedua, mengeritik sistem pendidikan yang mengedepankan pencapaian kompetensi yang harus dimiliki siswa tanpa mengembangkan sisi kemanusian, karakter dan religius siswa. Ketiga, mengeritik kecendrungan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya karena tujuan mendapatkan ijazah, agar anaknya mudah mendapatkan pekerjaan. Tentu setelah lulus kuliah.

Perguruan tinggi ICE -dan bisa jadi PT di Indonesia pun, dalam film tersebut hanya menjadi penyedia tenaga terampil yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan. Sehingga sekolah atau PT hanya menjadi komodifikasi dari kebutuhan industri dalam menyediakan kebutuhan tenaga pekerja. Sekolah dalam pandangan kapitalis tidak lebih dari jasa penyedia calon tenaga kerja yang memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri.

Baca Juga:Bertindak Sebagai Inspektur Upacara di Hari Santri, H.Ruhimat: Santri Membela Tanah AirKemensos Tingkatkan Literasi Penerima Manfaat Melalui Pocadi di 41 UPT

Model Pendidikan yang diselenggarakan ICE tersebut membenarkan tesis, Carlo Fanelli, professor dari Political Studies Departement Ryerson University, “Pendidikan lebih dari sekedar struktur institusi formal dan transaksi di ruang kelas”. Ruang kelas akan didominasi oleh kepentingan kebutuhan industri. Mulai dari kurikulum yang sesuai kebutuhan industri/perusahaan multi nasional, hingga sikap dan karakter yang dibutuhkan oleh industri. Jadi, kira-kira model mana pendidikan kita saat ini?(*)

OLEH: Kang Marbawi

Laman:

1 2
0 Komentar