JABAR  

TEGA! Belum Lunasi Biaya, Pihak Rumah Sakit Tahan Ibu Melahirkan, Padahal Bayinya Meninggal

Seorang ibu bernama Nani Mulyani, di Purwakarta, Senin (20/6) mengaku dirinya ditahan oleh pihak rumah sakit setelah melahirkan (Anggota DPR RI Dedi Mulyadi saat mengawal pasien yang tidak bisa pulang karena tak bisa membayar biaya rumah sakit).
Seorang ibu bernama Nani Mulyani, di Purwakarta, Senin (20/6) mengaku dirinya ditahan oleh pihak rumah sakit setelah melahirkan (Anggota DPR RI Dedi Mulyadi saat mengawal pasien yang tidak bisa pulang karena tak bisa membayar biaya rumah sakit).

PURWAKARTA– Satu orang pasien yang melahirkan di salah satu rumah sakit Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tiba-tiba saja ditahan dari rumah sakit dan tidak bisa dibolehkan pulang ke rumahnya. Hal tersebut lantaran ia belum membayar tagihan dari pihak rumah sakit.

Seorang ibu bernama Nani Mulyani, di Purwakarta, Senin (20/6) mengaku bahwa dirinya ditahan oleh pihak rumah sakit usai melahirkan seorang bayi, sedihnya saat diketahui bayi yang dilahirkannya meninggal dunia dan dirinya tidak diizinkan pulang sebelum melunasi biaya di rumah sakit.

Ibu tersebut adalah Warga Desa Sukajaya, Kecamatan Sukatani, Purwakarta, yang sangat disayangkan, tidak dapat menyaksikan jabang bayinya dikuburkan lantaran dirinya ditahan pihak rumah sakit karena belum melunasi biaya saat di rumah sakit sebesar Rp14 juta.

Belum Lunasi Biaya Rumah Sakit, Seorang Ibu di Purwakarta Ditahan Walau Bayinya Meninggal!

Kemudian, setelah mendapat kabar itu dari Kades Sukajaya, Anggota DPR RI Dedi Mulyadi bergegas menuju RSIA Bunda Fathia tempat ibu tersebut ditahan. Di sana ia bertemu langsung dengan pihak keluarga dari pasien bernama Nani Mulyani.

Sebelumnya, kades Sukajaya tersebut telah berupaya agar rumah sakit memberi kebijakan untuk bisa memulangkan keluarga tersebut. Sebab pihak keluarga sudah membayar Rp4 juta dan menyisakan utang Rp10 juta.

Suami Nani menjelaskan, bahwa awalnya ia membawa istri ke RS Thamrin Purwakarta. Tetapi, lantaran tidak ada ruang NICU, maka dirujuk ke RSIA Bunda Fathia. Usai ditangani, bayi itu lahir, tetapi meninggal dunia.

Menurutnya, dirinya telah membayar Rp. 4 juta kepada pihak rumah sakit. Uang itu berasal dari hasil gadai tanah.

Namun, pihak rumah sakit masih tidak mengizinkan pulang, lantaran masih ada sisa tunggakan Rp10 juta.

Bahkan ketika bayi tersebut dimakamkan, sang istri tidak diizinkan pulang untuk melihat pemakaman bayinya itu.

“Tidak bisa pulang karena administrasinya belum selesai. Bayi meninggal di sini, ibunya (istri) gak bisa bisa lihat pemakaman karena ditahan di sini,” jelasnya.

Dedi pun tidak habis pikir dengan cara rumah sakit melakukan hal itu. Sebab menahan pasien tidak menjamin biaya rumah sakit akan lunas. Dedi pun meminta untuk bertemu dengan pihak manajemen rumah sakit.

Sambil menunggu pihak manajemen, Dedi bersama keluarga itu menuju ruang administrasi. Di tempat tersebut Dedi melunasi semua biaya rumah sakit yang mencapai Rp10 juta lebih.

Saat bertemu pihak manajemen rumah sakit, Dedi mempertanyakan kebijakan rumah sakit yang tidak memiliki empati untuk sekadar memberi izin ibu tersebut melihat bayinya terakhir kali sebelum dikuburkan.

“Minimal dikasih ruang dulu untuk menengok bayinya dikuburkan,” kata Dedi.

Dalam kasus tersebut, Dedi Mulyadi berusaha bersikap netral. Dirinya memberi teguran kepada suami keluarga itu lantaran tidak mengikuti program BPJS. Padahal suami ibu Nani itu mempunyai gaji tetap dan cukup untuk mengikuti program BPJS.

“Suami harus bertanggung jawab pada istri dan keluarga dengan mendaftarkan BPJS. Tapi saya juga komplain kepada rumah sakit kenapa tidak diizinkan pulang, harus ada jaminan segala macam. Gak elok masa orang lagi susah ditambah susah,” jelas Dedi.

Dedi juga meminta kejadian seperti itu agar tidak terulang lagi. Walaupun ada penahanan, seharusnya yang ditahan adalah pihak suami, bukan dari ibu yang melahirkan. Sebab suami mempunyai tanggung jawab sebagai kepala keluarga.

“Tapi saya juga berterima kasih karena di sini ada NICU, nyawa ibunya bisa terselamatkan. Kalau tidak dibawa ke sini mungkin ibunya juga bisa meninggal,” jelas Dedi Mulyadi.

Lebih lanjut lagi, Setelah melunasi semua tunggakan, pihak keluarga tersebut diizinkan pulang dan diantar menggunakan ambulance desa. (Jni)