Mengaplikasikan Pancasila Melalui Tradisi Tanam Padi Gogo Ala Dedi Mulyadi

PURWAKARTA – Sejak menjabat sebagai Anggota DPR/MPR RI, Dedi Mulyadi melakukan beberapa dobrakan dalam menjalankan tugasnya. Salah satunya melakukan sosialisasi 4 pilar kebangsaan secara aplikatif langsung bersama masyarakat.

Pada umumnya sosialisasi seperti itu dilakukan di sebuah ruangan dengan dihadiri oleh sejumlah elemen masyarakat. Sosialisasi dilakukan secara monoton yakni pemaparan dan diakhiri tanya jawab.

Pada sosialisasi bulan lalu Dedi melakukannya dengan cara bekerja bakti bersama warga membersihkan sampah. Kali ini ia melakukan pendekatan Pancasila melalui tradisi menanam padi di Tajug Gede Cilodong, Kabupaten Purwakarta, bersama para petani.

Menurutnya bangsa Indonesia sejak dulu memiliki tradisi gotong royong dalam mengerjakan sesuatu. Begitu pun dalam hal bercocok tanam, tradisi gotong royong masih tertanam kuat di dalamnya.

“Tradisi gotong royong melakukan pengelolaan secara bersama-sama dan itu merupakan salah satu pilar utama dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Dedi di sela-sela kegiatan, Jumat (13/11/2020).

Dedi mengatakan, dalam tradisi Sunda kegiatan bertani atau berladang biasa disebut ngahuma. Tradisi ini mengajak masyarakat menanam padi secara bersama-sama di suatu areal terbuka milik bersama tanpa adanya kepemilikan atau sertifikasi seperti saat ini.

Kebersamaan dan gotong royong yang dilakukan sejak melakukan penanaman hingga panen tidak menimbulkan rasa saling iri antar masyarakat. Semua masyarakat terbagi secara merata hasil panen sesuai dengan pekerjaan mereka.

“Hari ini saya mencoba mengajak berinteraksi tentang itu, menanam padi secara bersama-sama dan bisa dinikmati oleh masyarakat hasilnya secara bersama-sama di Tajug Gede Cilodong,” katanya.

Pada sosialisasi bertajuk ‘Gotong Royong Memperkuat Ketahanan Pangan’ ini dilakukan penanaman padi gogo di areal seluas 6 hektare. Penanaman dilakukan oleh para petani dan sejumlah pengurus masjid.

Pemilihan padi gogo sendiri tak lepas dari areal penanaman yang kering. Padi gogo masih bisa tumbuh dan menghasilkan dengan rata-rata 3-4 ton per hektare dalam satu kali panen.

Padi gogo, kata Dedi, bisa ditanam di semua media bahkan di rumah masing-masing. Menurutnya penanaman padi gogo akan terus dilakukan di sejumlah areal dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat sebagai bentuk ketahanan pangan.

“Apalagi pada pandemi seperti saat ini. Walau serba dibatasi tapi semua masih butuh makan, jadi penanaman harus tetap dilakukan. Dan padi gogo ini bisa dimanfaatkan di mana saja dan oleh siapa saja,” ujar Dedi.

Ia berharap penanaman padi gogo bisa menginspirasi masyarakat dengan mulai ikut menanam. “Kita tumbuhkan kesadaran masyarakat akan ketahanan pangan ini. Menanam padi gogo bisa di mana saja. Bisa di pot atau lahan kering sekitar rumah,” ucapnya.(mas)