Poster sebagai Media Pembentuk  Karakter Siswa (2/habis)

Poster sebagai Media Pembentuk  Karakter Siswa (2/habis)
0 Komentar

 oleh:

1.Suparto ( Guru Geografi  SMA Negeri 1 Way Lima Kab. Pesawaran, Lampung )

2.Drs.H.Priyono,MSi ( Dosen Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Kolumnis Jabar Pasundan Ekspres)

Langkah pertama dalam menyusun kesepakatan kelas yaitu memberikan pertanyaan pemantik, dimana dalam pertanyaan itu akan muncul harapan yang diimpikan peserta didik dalam proses pembelajaran.  Pertanyaan diajukan dalam bentuk angket pada sebuah formulir menggunakan aplikasi google form dan angket yang disebar online di posting di google classroom. Setelah angket di rekap tanggapannya, dikelompokkan berdasarkan jenis jawaban, kemudian di share kembali hasilnya pada peserta didik.

Hasil tanggapan itu yang akan direspon kembali oleh peserta didik yang akan menjadi draft kesepakatan kelas. Peserta didik merespon, guru sebagai kontrol kelas mengarahkan bagaimana agar keinginan-keinginan yang mereka tuangkan dalam angket dapat diwujudkan. Tentunya dengan bekerja sama menentukan formula dari kesepakatan kelas, agar memudahkan semua yang terlibat dalam pelaksanaannya.

Baca Juga:Prioritaskan Anggaran 70 persen untuk InfrastrukturPemkab Purwakarta Siapkan Mitigasi Hadapi Gelombang Ketiga Omicron

Diawali dengan sebuah percakapan sapaan seperti biasa, “anak-anak apa kabar kalian sekarang…?”, “apakah belajar kalian sudah nyaman?, “kira-kira bagaimana agar kelas dan kegiatan belajar nyaman, pembelajaran seperti apa yang kalian inginkan?. “agar terwujud kelas yang kalian impikan, kira-kira apa yang harus dilakukan?”. “Setelah kalian susun semua keinginan dan harapan, dalam bentuk kalimat positif, kalian simpulkan cara menempuh impian dan harapan tersebut”. “baiklah, draft kesepakatan sudah tersusun, mari kita sepakati Bersama, dengan menandatangani draft ini dalam sebuah poster”, berhubung kelas masih online poster online ini kalian print dan kalian tandatangani di bawah poster masing-masing, silakan kalian tempel masing-masing di ruang belajar dirumah kalian.

Feedback dari siswa dan semua pemangku kepentingan di sekolah, kepala sekolah, guru, peserta didik, orangtua, komite dan semua tenaga kependidikan, serta semua warga di lingkungan sekitar sekolah. Tantangan dalam menerapkan budaya positif, adalah menghadapi murid yang notabene nya di usia remaja, pra dewasa. Yaitu di jenjang SMA dimana karakter sudah banyak terbentuk dan terpoles berdasarkan pengalaman belajar mereka di jenjang sebelumnya, Sehingga keberagaman karakter di jenjang SMA sangat kentara, bergantung dari latar belakang keluarga, background sekolah sebelumnya, dan bahkan pengaruh social lingkungan masyarakat disekitarnya. Karena pada jenjang SMA sangat dimungkinkan peserta didik datang dari segala penjuru domisili.

0 Komentar