SOFT SKILL P5

SOFT SKILL P5
0 Komentar

oleh :

Ninuk Dyah Ekowati, M.Pd. Ninuk Dyah Ekowati, M.Pd. (Guru di SMAK St. Hendrikus, Surabaya)

Permasalahan konflik antara Indonesia dan Malaysia sering kali terjadi. Konflik ini dimulai dengan munculnya persoalan klaim mengklaim kebudayaan. Beberapa kebudayaan yang menjadi perebutan adalah Batik, Reog, Lagu Rasa Sayange, Rendang, Kuda Lumping, dan masih banyak lagi. Sebuah kebanggaan adalah sebagian dari masyarakat yang terkumpul dalam warganet atau masyarakat di Tanah Air pengguna internet bereaksi keras terhadap peristiwa klaim mengklaim beberapa budaya ini.

Salah satu yang menjadi konflik yang cukup memanas adalah Batik. Batik merupakan produk lokal yang dibanggakan oleh bangsa Indonesia, namun para generasi muda tersinggung saat Miss World Malaysia 2021 Lavanya Sivaji menyatakan bahwa batik adalah produk dari Malaysia. Menurut United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) umur batik kira-kira sudah lebih dari 1 milenium atau 1.000 tahun. Kata Batik diambil dari bahasa Melayu-Indonesia yang sekarang menunjukkan proses pencelupan kain.

Baca Juga:Budaya Positif: Sebuah Upaya Menyemai Karakter Mulia Peserta DidikKepemimpinan di Era Digital

Sementara itu, pada era globalisasi dan adanya perkembangan zaman pada saat ini, generasi muda Indonesia lebih suka menggunakan fashion yang dipengaruhi oleh trend luar negeri, hal ini tentu akan menyebabkan batik sebagai salah satu produk lokal di Indonesia menjadi tergerus oleh perkembangan zaman. Bergesernya produk lokal di Indonesia, semangat dan rasa cinta bangsa Indonesia terhadap kebudayaan Indonesia akan semakin menurun. Padahal, batik adalah produk lokal yang bisa dijadikan style fashion modern pada zaman sekarang mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya, Batik Indonesia sudah mengukir prestasi yang luar biasa hingga diakui oleh negara lain di kancah Internasional.

Kondisi kontradiksi ini, tentu harus diatasi dengan bijak. Satu sisi budaya Batik diperjuangkan menjadi produk Indonesia, hal ini sangat membanggakan karena para generasi muda mencintai bangsanya. Namun di sisi lain, produk Batik tidak dijadikan icon yang istimewa, justru lebih bangga terhadap budaya lain, hal ini menggerus produk Batik.

P5 yaitu Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila menjadi jawaban dari dilema di atas. P5 dengan dimensi berkebhinekaan Global merupakan program yang mengusahakan agar generasi muda Indonesia dapat mempertahankan budaya luhur, lokalitas, identitasnya dan konsep berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya budaya baru yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa.

0 Komentar