Masjid Dan Pendidikan Multikultural

Masjid Dan Pendidikan Multikultural
0 Komentar

Era sesudah  Rasulullah SAW wafat kemudian diteruskan oleh para sahabat Rosul, praktik Pendidikan mutikuktal berbasis masjid juga bisa dijumpai. Pada saat Amr bin Ash menjabat sebagai Gubernur Mesir dan melakukan penataan ibu kota di Fustat serta melakukan perluasan masjid dan harus menggusur sebuah rumah milik orang Yahudi. Lalu orang Yahudi yang keberatan jika rumahnya akan digusur,  mengadukan masalahnya kepada Sang Amirul Mukminin Umar bin Khathab. Sang Amirul Mukminin menegur Gubernur dengan cara mengirim tulang yang digores dalam bentuk garis lurus dengan pedangnya sebagai peringatan untuk berbuat adil kepada siapapun termasuk kepada non muslim agar tidak muncul konflik.  Amr bin Ash setelah menerima tulang tersebut dari orang Yahudi pemilik rumah, segera menghentikan rencana mega proyeknya sebagai bentuk ketaatan kepada Amirul Mukminin untuk berbuat adil kepada siapapun.

Para Wali dalam menyebarkan ajaran Islam khususnya di tanah Jawa juga sangat arif dan bijak dalam menghadapi kultur Jawa yang sangat beragam. Para wali tidak menempuh jalan konfrontatif terhadap budaya, bahkan melakukan akulturasi budaya dalam bentuk simbolik dengan tetap menjaga prinsip akidah yang kuat. Hal tersebut antara lain tampak pada bangunan masjid yang mengikuti kultur Jawa dengan atap joglo, limasan bahkan menyerupai bangunan agama lain seperti Masjid Menara Kudus di Jawa Tengah. Inilah Pendidikan multikulturalisme yang unik sehingga  dakwah Islam para Wali dapat diterima tanpa muncul konfik dan perlawaanan fisik.

Masjid memiliki peran penting dan kepeloporan dalam Pendidikan multikultural yang dan harus terus dirawat untuk mewujudkan harmoni kehidupan dengan tidak meninggalkan hal hal yang prinsip atau aqidah.

Laman:

1 2
0 Komentar