Kisah Dilla, Anak Penjual Seragam di Subang yang Dikunjungi Pimpinan ITB usai Lolos SNBP

Kisah Dilla, Anak Penjual Seragam di Subang yang Dikunjungi Pimpinan ITB usai Lolos SNBP.
DIKUNJUNGI - Dilla saat dikunjungi Wakil Rektor ITB. Raut wajah Dilla, siswi asal SMA Negeri 1 Subang, dinyatakan lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) ke jurusan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH).
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO-Raut wajah Dilla, siswi asal SMA Negeri 1 Subang, dinyatakan lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) ke jurusan Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH). Dilla tampak begitu bahagia seakan tak percaya ketika jajaran pimpinan ITB datang ke rumahnya menggunakan sepeda motor.

Kunjungan tersebut dilakukan oleh Dosen Metalurgi ITB, Imam Santoso, bersama Wakil Rektor, Rikrik, serta jajaran dekan dan direktur kemahasiswaan.

Kehadiran mereka menjadi sebuah bentuk nyata kepedulian ITB terhadap mahasiswa dari latar belakang kurang mampu.

Baca Juga:Link UMKM BRI Dorong Perempuan Pengusaha Fesyen Naik Kelas, Olah Wastra Nusantara Jadi Busana ModernKemenag Siapkan Afirmasi dan Beasiswa untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Pesantren

“ITB itu care dan peduli pada anak-anak yang tidak mampu. Kita ingin memastikan bahwa semua anak, dari berbagai latar belakang ekonomi, bisa kuliah di ITB,” ujar Imam Santoso saat dihubungi, Senin (13/4/2026).

Di balik prestasi itu, Dilla memiliki kisah yang begitu mengharukan.

Ia tinggal berdua dengan ayahnya sejak sang ibu meninggal dunia. Bersama sang ayah, Dilla sehari-hari membantu berjualan perlengkapan seragam sekolah di rumah, mulai dari baju, topi, hingga badge.

“Dilla itu tinggal sama ayahnya, jualan baju sekolah, topi, badge, hidupnya sederhana. Bahkan awalnya dia ingin kuliah di Subang saja supaya bisa tetap menemani ayahnya,” kata Imam.

Sebagai anak bungsu, Dilla memilih untuk memendam kabar penting itu. Ia bahkan tidak langsung memberi tahu sang ayah bahwa dirinya mendaftar ke ITB.

“Dia nggak bilang ke ayahnya, baru diberitahu setelah keterima. Itu pun lewat kakaknya dulu. Jadi ayahnya benar-benar kaget,” ungkapnya.

Kejutan itu berubah menjadi haru yang menyelimuti seluruh kampung. Sang ayah, yang selama ini aktif mengisi pengajian ibu-ibu di lingkungan sekitar, tak kuasa menahan emosi ketika mendengar kabar tersebut.

Di balik kebahagiaan itu, tersimpan luka lama yang selama ini dipendam sang ayah. Dalam pertemuan dengan pihak kampus, ia mengungkapkan kisah masa kecilnya yang tak pernah sempat mengenyam pendidikan formal.

Baca Juga:Dedi Mulyadi Bakal Sulap Jembatan Cirahong Jadi Tempat Wisata dengan Bangunan Khas SundaHino Bus 4×4 Tangguh, Siap Taklukkan Medan Ekstrem

“Beliau bilang, ‘Ini seperti balas dendam saya. Dulu saya nggak sekolah, putus sekolah. Saya cuma bisa jemur padi di halaman sekolah,’” tutur Imam menirukan cerita sang ayah.

0 Komentar