PASUNDANEKSPRES.CO- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengajak para guru dan orang tua untuk tidak takut menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurutnya, kemampuan menguasai AI justru dapat menjadi nilai tambah dalam mendukung proses pendidikan dan pengawasan terhadap anak-anak.
Dalam pesannya, Gibran memahami masih adanya rasa canggung maupun kekhawatiran terhadap perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Baca Juga:Kisah Dilla, Anak Penjual Seragam di Subang yang Dikunjungi Pimpinan ITB usai Lolos SNBPTulisan 'Kehilangan Bukan Tanggung Jawab Pengelola' di Karcis Parkir Ternyata Bisa Dipidana 5 Tahun
Namun, ia menegaskan para guru tidak boleh menyerah untuk terus meningkatkan kemampuan diri.
Menurut Gibran, guru yang mampu memanfaatkan AI akan memiliki “kekuatan super” dalam mendidik siswa secara lebih efektif.
“AI bisa membantu sisi administratif guru baik dalam membuat pertanyaan, menyajikan penjelasan yang lebih sederhana dan diminati murid, serta memberikan contoh kasus yang membuat murid lebih bisa menyerap materi pembelajaran,” ungkapnya.
“Sehingga bapak ibu punya lebih banyak waktu untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid-murid kita,” sambung Gibran.
Selain guru, Gibran juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak di era digital. Ia mengingatkan agar orang tua tidak tertinggal dalam memahami perkembangan teknologi yang digunakan generasi muda.
“Jangan sampai anak-anak kita terbang tinggi dengan teknologi, tapi kita sebagai orang tua tertinggal di bawah dan tidak tahu apa yang mereka akses,” jelasnya.
Meski mendorong pemanfaatan AI secara luas, Gibran menegaskan bahwa aspek yang paling penting bukan hanya kemampuan teknis, melainkan etika dalam penggunaan teknologi tersebut.
Baca Juga:3 Sekolah Rakyat Raih Penghargaan Top 100 Excellence Award 20269 Weton Tulang Wangi Paling Diincar Sengkolo saat Malam 1 Suro, Jangan Keluar Rumah!
Ia mengingatkan bahwa teknologi tanpa etika dapat menimbulkan berbagai dampak negatif.
Menurutnya, AI memang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan konten positif dan meningkatkan produktivitas.
Namun di sisi lain, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk menyebarkan hoaks, melakukan plagiarisme, hingga melanggar privasi orang lain.
Karena itu, Gibran meminta masyarakat menggunakan AI berdasarkan nilai-nilai integritas. Ia menegaskan AI tidak boleh dimanfaatkan untuk menipu atau menjatuhkan pihak lain, melainkan harus digunakan demi kesejahteraan bersama dan mempermudah kehidupan masyarakat.
“AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan menciptakan kekacauan sosial. Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan kemajuan moralitas kita sebagai bangsa yang beradab,” ujarnya.
