Ketika Pilihan itu Ada: Pronasa atau Karang Taruna

Ketika Pilihan itu Ada: Pronasa atau Karang Taruna (Foto:Yudi Septawardana)
Ketika Pilihan itu Ada: Pronasa atau Karang Taruna (Foto:Yudi Septawardana)
0 Komentar

  1. Objek Pronasa tidak menjangkau seluruh elemen generasi muda

Sumber akar masalah di kalangan generasi muda adalah generasi muda yang putus sekolah dan pengangguran. Sebagian mereka “memvirus” pelajar dengan sifat dan perilaku yang kurang elok, seperti merokok, judi online, maling, balapan liar, dan begadang hampir tiap malam. Bahkan lebih mengerikan memperkenalkan siswa dengan narkoba. Buktinya, pengedar narkoba yang tertangkap aparat, umumnya generasi putus sekolah atau pengangguran tersebut.

Selanjutnya, bagaimana dengan siswa madrasah (MI/MTS/MA)? Apakah juga termasuk dalam siswa sasaran Pronasa? Kuantitas siswa madrasah di beberapa kampung, melebihi siswa sekolah di bawah nauangan Pemda.

  1. Potensi menimbulkan maksiat di kalangan pelajar

Pelaksanaan Pronasa di tingkat SMA berdasarkan pengamatan penulis, dipusatkan di beberapa masjid pada malam hari. Sehingga sebagian siswa SMA yang rumahnya, jauh datang dengan mengenderai sepeda motor? Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana pengawasan siswa pasca kegiatan? Tentunya itu, berpotensi menumbuh suburkan penyakit masyarakat, misalnya pergaulan dan seks bebas. Na’zubillah min zalik

Baca Juga:Sepucuk Surat Cinta untuk Kang EmilWagub Uu Ruzhanul Dampingi Wapres Resmikan Masjid Syarief Abdurachman

  1. Manajemen Dana Pronasa

Ada paha ada bati, ada usaho ada rasaki (ada paha ada betis, ada usaha ada rezeki). Pantun itu sering muncul sebagai motivasi kerja dan berkarya. Melalui Pronasa pembayaran insentif, melalui instansi apa? Sekolah atau nagari? Kalau nagari tidak dilibatkan. Bersediakah pemerintah nagari untuk mendukung kegiatan itu? Bagaimana proses pembayaran tenaga pengajar/pelatih/pembimbing non-PNS atau masyarakat biasa? Bagaimana dengan insentif guru mengaji yang sudah ditanggung oleh pemerintah nagari setempat?

  1. Potensi beban dan kecemasan baru bagi GTK

Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) sudah dibebani dengan Tupoksi di sekolah. Dengan adanya Pronasa ini tentunya menambah beban mereka. Terutama bagi kalangan GTK perempuan. Kapan waktu mereka mengurus rumah tangga (anak dan suami)? Waktu untuk keluarga seakan-akan sudah tersita. Apakah ini tidak akan menimbulkan masalah baru  (broken home) di kemudian hari?

LIHAT JUGA: NEGARA MERDEKA Ala MOBIL ODONG-ODONG

Selanjutnya, muncul pertanyaan baru di kalangan para GTK. Seandainya Pronasa tidak terlaksana di suatu wilayah. Bagaimana dengan nasib GTK di wilayah tersebut? Apakah nanti tidak disangkut pautkan atau menjadi persyaratan pembayaran TPP atau TPG?

0 Komentar