Seri Belajar Ringan Filsafat Pancasila ke 65

Belajar Filsafat
0 Komentar

Memaknai sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” Bagian ke 6

Kuli

“Tak ada kemampuan dan kedaulatan pada bumi yang diisi oleh manusia yang bermental KULI. Dan tak mungkin ada keadailan sosial bagi para KULI”

***

Suatu sore di tahun 1916, disebuah rumah yang berada di jalan Paneleh 7, nomor 29-31 Surabaya, Soekarno berdiskusi dengan Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Semaoen, Alimin, Musso, dan Kartosoewirjo. Waktu itu Soekarno masih berumur 15 tahun, dia dititipkan ayahnya, Soekemi Sosrodihardjo ke HOS Tjokro, untuk melanjutkan pendidikannya di Hoogere Burger School (HBS).

Baca Juga:Bejad, Bocah SD Digilir Tiga Orang Tukang Ojek di Kebun SawitLuar Biasa!! Ini Besaran Anggaran untuk Pembebasan Lahan Bendungan Sadawarna

Tjokroaminoto sudah menjadi Ketua Sarekat Islam, organisasi politik terbesar dan yang pertama menggagas nasionalisme. Di rumah yang berada di dekat Kalimas ini, menjadi “sekolah” sesungguhnya bagi Seokarno dan kawannya. “Sekolah” kebangsaaan dari obrolan dengan pemilik rumah inilah, menjadi cikal bakal pergerakkan Indonesia Merdeka.

Rumah yang melahirkan tiga pemikiran besar dalam sejarah pemikiran pergerakan Indonesia. Tiga pemikiran- yang mengiringi Indonesia Merdeka, dan kemudian mengambil jalan sendiri. Tak bertaut. Tak pernah bersua, pun di muara laut. Walau bersumber dari hulu yang sama. Malah saling meniadakan dan melenyapkan. Soekarno mewarisi pemikiran nasionalisme-agamis, Semaoen mewarisi pemikiran komunisme dan Kartosoewirjo mewarisi Islamisme- romantis. Percis seperti nasib manusia yang membawa taqdir dan jalan hidupnya masing-masing. Pernah juga Soekarno bereksperimen menyatukannya dalam ideologi NASAKOM, Nasionalis, Agama dan Komunis. Namun gagal. Karena memang tak sama tujuan muaranya.

Obrolan sore di rumah seluas 9 x 13meter ini, yang dibeli HOS Tjokroaminoto dari seorang keturunan Arab di tahun 1902 ini, tak seperti obrolan di warung kopi pinggir jalan. Atau caffe-caffe yang menjamur seperti sekarang. Caffe yang menawarkan adiksi berselancar di dunia maya dengan wifi-nya kepada kaula muda.

Di usia belasan tahun murid sekolah kebangsaan HOS Tjokro, telah memiliki kesadaran akan nasib bangsanya yang terjajah.

“Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli diantara bangsa-bangsa”, begitu kata Soekarno yang mengutip obrolan dengan Semaoen dan HOS Tjokroaminoto.

Berita berlanjut di halaman berikutnya…

0 Komentar