Sosok Jumaria yang Hiasi Media Arab Saudi, Menabung Puluhan Tahun dari Hasil Sawah

Sosok Jumaria yang Hiasi Media Arab Saudi, Menabung Puluhan Tahun dari Hasil Sawah
Nenek Jumaria di tengah padatnya kegiatan jemaah haji di Madinah -
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Nenek Jumaria, jemaah haji lansia asal Desa Kuru Sumange, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menjadi perhatian setelah ditunjuk sebagai Ikon Haji Makkah Route 2026.

Sosok dan kisahnya untuk bisa beribadah haji menghiasi media sosial Kerajaan Arab Saudi.

Meski hampir berusia 70 tahun, kondisi fisik dan kesehatannya yang prima membuatnya menjadi contoh ideal jemaah haji yang memenuhi syarat istitha’ah.

Baca Juga:Kloter Pertama Jemaah Haji Aceh Mendarat di Madinah, 68 Lansia Disambut HangatPenyidikan Kasus Kecelakaan Kereta di Bekasi Lanjut, VinFast Indonesia diperiksa Polda Metro Hari Ini

Kisah perjuangan Nenek Jumaria viral setelah diunggah Otoritas Keimigrasian Arab Saudi melalui akun @makkahroute.

Ia terpilih sebagai ikon atas rekomendasi Kementerian Haji dan Umrah RI karena mampu menabung selama puluhan tahun dari hasil kerja keras di sawah dan kebun, meski hidup seorang diri tanpa suami dan anak.

Ketua Kloter 14 Embarkasi UPG, Siti Hawaisyah, menjelaskan bahwa Nenek Jumaria dipilih karena catatan istitha’ah kesehatannya sempurna.

“Itu buktinya tidak merah dia (kartu kesehatannya), berarti dia sehat,” ujar Siti.

Nenek Jumaria diketahui tidak pernah melewatkan satu pun dari 80 kali pertemuan manasik haji di daerahnya, baik saat hujan maupun cuaca panas.

Kondisi fisiknya yang bugar bahkan sempat membuat teman sekamarnya, Ibu Marwati, kewalahan mengimbangi langkahnya.

“Sampai-sampai saya berjalan dengan kencang begitu, bahkan dia masih bisa lari tarik saya,” cerita Marwati.

Baca Juga:Polda Banten Bongkar Modus Penyelundupan BBM dan LPG Subsidi, Ribuan Liter Solar DiamankanKapan Idul Adha 2026? Kemenag akan Gelar Sidang Isbat pada 17 Mei

Dalam kesehariannya di Tanah Suci, Nenek Jumaria mampu menjalankan ibadah secara mandiri. Ia berdoa agar diberi umur panjang sehingga bisa kembali ke Tanah Suci.

“Aku berdoa supaya panjang umur saja, semoga dikasih ke sini lagi,” katanya

Untuk mewujudkan impian berhaji, Nenek Jumaria bekerja dari pagi buta di sawah dengan membawa bekal air seadanya.

Hasil panen padi dijual, lalu sebagian kecil disisihkan untuk tabungan haji. Ia juga bekerja di kebun orang lain dengan upah Rp200 hingga Rp700 yang langsung disimpan

Uang recehan itu ia simpan di berbagai tempat sederhana seperti di bawah kasur, ember, dan ditutup kain bekas agar tidak tergoda untuk dipakai kebutuhan sehari-hari.

Bahkan saat kekurangan, ia memasak daun ubi atau memakan telur ayam peliharaannya agar tabungan tetap utuh.

0 Komentar