PASUNDANEKSPRES.CO-Meski harga emas dunia turun ke level USD 4.100,32 pada Rabu (8/7/2026), Asia kini muncul sebagai pusat gravitasi baru pasar emas global.
Permintaan kuat dari kawasan Asia berhasil menopang harga emas meskipun terjadi tekanan jual dari investor global. Hal ini seiring dengan penguatan infrastruktur perdagangan emas di Singapura dan Hong Kong.
Menurut data BCA Sekuritas, ketika investor menjual emas untuk meningkatkan likuiditas akibat konflik di Timur Tengah, permintaan di Asia tetap menjadi penyangga harga.
Baca Juga:Usai Dievaluasi, Pengurus Koperasi Merah Putih Tak Lagi Disiapkan Jadi KomcadKucing Hitam Pembawa Sial? Ini Sejarah, Mitos, dan Fakta Ilmiah yang Jarang Diketahui
“Permintaan di Asia telah menopang harga,” tulis data tersebut, Kamis (9/7/2026).
Salah satu bukti kuatnya permintaan Asia tercermin dari arus masuk ke Exchange Traded Fund (ETF) emas yang didukung fisik. Berdasarkan laporan World Gold Council (WGC) yang dirilis Rabu (8/7/2026), Asia mencatat rekor inflow sebesar USD 12 miliar pada paruh pertama tahun ini. Sementara Eropa hanya USD 3,2 miliar.
Ahli Strategi Emas Asia-Pasifik di State Street Investment Management, Robin Tsui, menilai keberhasilan pasar emas di Asia lebih bergantung pada likuiditas dan partisipasi pasar daripada sekadar tingkat harga.
“Inisiatif ini terus didukung oleh permintaan emas yang tangguh di Asia sejauh tahun ini,” ucapnya.
Sebelumnya, harga emas dunia turun 0,1 persen menjadi USD 4.100,32 per ounce, level terendah sejak 2 Juli 2026.
Penurunan ini dipicu oleh serangan Amerika Serikat terhadap Iran yang mendorong naiknya harga minyak dan dolar AS.
Kenaikan harga minyak dan dolar memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lama, sehingga suku bunga acuan tetap tinggi. Kondisi ini membebani harga emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil (yield).
Baca Juga:Sempat Viral di Media Sosial, Fakta Baru Kasus Pembakaran Tiga Santri di Lombok Tengah TerungkapiShowSpeed Menangis Histeris Usai Portugal Tersingkir, Air Mata Cristiano Ronaldo Sentuh Penggemar
Meski demikian, dukungan kuat dari pasar Asia diperkirakan akan terus menjadi faktor penstabil harga emas global ke depan.
MUAMMAR QADDAFI
