PASUNDANEKSPRES.CO – Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi, menyebut pelemahan rupiah saat ini tak bisa semata-mata disalahkan pada faktor global. Pasalnya, sejumlah negara justru mengalami penguatan mata uang saat indeks dolar AS sedang turun.
“Negara lain mata uangnya justru menguat karena indeks dolar turun. Hanya kita yang paling terpuruk. Berarti bukan hanya faktor global, ada faktor domestik,” katanya, saat dihubungi Tribunjabar.id. Selasa (12/5/2026).
Ia menilai pemerintah perlu mengakui adanya persoalan domestik yang turut menekan kepercayaan investor terhadap Indonesia.
Baca Juga:Marc Marquez Sampaikan Kabar Baik Usai Operasi Sukses, Begini Kondisinya SekarangPuan Minta Mitigasi Hantavirus Diperkuat: Jangan Sampai Meluas seperti Pandemi COVID-19
Acuviarta menyebut, salah satunya pada kebijakan fiskal yang dinilai terlalu ekspansif, namun belum sepenuhnya tepat sasaran.
“Kalau menurut saya, anggaran fiskal terlalu boros dan tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, hingga Sekolah Garuda sebagai bagian dari belanja negara yang dinilai perlu dievaluasi efektivitasnya.
Selain itu, beban utang pemerintah yang tinggi juga menjadi perhatian. Di sisi lain, penerimaan pajak disebut masih tumbuh lambat, sementara belanja negara meningkat cukup signifikan.
“Penerimaan pajak kita lambat, sedangkan belanja naik cukup signifikan. Artinya kita harus tambah utang,” katanya.
Kondisi tersebut dinilai membuat pasar semakin berhati-hati terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Karena itu, Acuviarta menilai akan sulit bagi dolar kembali turun ke bawah Rp17.000 dalam waktu dekat tanpa langkah besar dari pemerintah.
Baca Juga:Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Viral di Media Sosial, Begini Cara DaftarnyaSiap-Siap Long Weekend! Tanggal 14 Mei 2026 Libur Nasional Kenaikan Yesus Kristus
“Saya kira akan sangat sulit dolar kembali ke bawah Rp17.000 dalam waktu dekat,” ujarnya.
Ia mengatakan pemerintah perlu mengambil langkah extraordinary atau kebijakan luar biasa untuk memulihkan kepercayaan pasar.
“Perlu kondisi yang extraordinary dari pemerintah, mengambil keputusan cepat dan menyelesaikan masalah secara cepat. Tidak bermain wacana,” katanya.
Meski masih ada potensi fluktuasi jangka pendek, Acuviarta memperkirakan tren pelemahan rupiah masih berlanjut.
“Meski ada fluktuasi jangka pendek, saya kira tren rupiah akan terus melemah, terutama karena faktor domestik,” ujarnya.
Dampak pelemahan rupiah, lanjut dia, belum sepenuhnya dirasakan masyarakat karena pemerintah masih menahan kenaikan sejumlah harga strategis melalui APBN.
