SBY Ungkap Pelajaran Berharga dari Krisis 1998 dan 2008, Relevan untuk Situasi Global Saat Ini

SBY Ungkap Pelajaran Berharga dari Krisis 1998 dan 2008, Relevan untuk Situasi Global Saat Ini.
SBY di Asia Grassroots Forum, forum tahunan yang diselenggarakan oleh Amartha Financial berkolaborasi dengan International Finance Corporation (IFC), Accion, dan Women’s World Banking (WWB) pada 3-4 Juni 2026 di Jakarta.
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO-Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkap pelajaran berharga yang dipetik Indonesia saat menghadapi berbagai krisis besar, mulai dari krisis finansial Asia 1997-1998 hingga krisis keuangan global 2008.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh stabilitas ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat untuk tetap produktif, terhubung secara sosial, dan memiliki harapan terhadap masa depan.

Pernyataan itu disampaikan SBY saat menjadi pembicara dalam Asia Grassroots Forum.

Baca Juga:Jadwal dan Syarat Daftar Jalur Domisili SPMB Jabar 2026 Jenjang SMA-SMK, Kapan Dibuka?BULOG Tembus 3 Juta Ton Serapan Gabah-Beras Petani, Rekor Baru Penguatan Cadangan Pangan Nasional

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat rivalitas geopolitik, konflik di berbagai kawasan, fragmentasi ekonomi, hingga disrupsi teknologi, SBY menilai pelajaran dari masa lalu tetap relevan untuk menghadapi tantangan dunia saat ini.

“Selama saya menjabat sebagai Presiden Indonesia, saya menyaksikan langsung bagaimana ketahanan di tingkat akar rumput menjadi sangat penting pada masa-masa krisis,” ujar SBY.

Ia mengenang berbagai ujian berat yang pernah dihadapi Indonesia, mulai dari dampak krisis finansial Asia, aksi terorisme, bencana tsunami Aceh 2004, hingga krisis keuangan global 2008.

Dari pengalaman tersebut, SBY menyimpulkan bahwa bangsa akan menjadi lebih kuat ketika masyarakat tetap aktif secara ekonomi, tetap terhubung secara sosial, dan tetap memiliki optimisme terhadap masa depan.

“Kita mengelola dampak dari krisis finansial Asia pada tahun 1997 dan 1998. Kita menghadapi terorisme, dan juga bencana alam yang sangat dahsyat, termasuk tsunami di Aceh pada 2004. Kemudian, kita juga menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Tahun-tahun itu bukanlah masa yang mudah,” paparnya.

Dalam pidato pembukaan The 2026 Asia Grassroots Forum, Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi harus mampu menciptakan peluang yang lebih luas bagi masyarakat.

“Di tengah perubahan global yang semakin cepat, negara-negara di Asia perlu terus mendorong produktivitas, kewirausahaan, dan inovasi. Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat untuk berkembang, membangun usaha, dan meningkatkan kesejahteraan. Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika pertumbuhan mampu menjangkau lebih banyak orang,” ujar SBY.

Baca Juga:Mendiktisaintek Koordinasi dengan UNY soal Skandal Riset Palsu oleh WNI di Denmark, Berpotensi Pidana!Soal Penggeledahan Kantor BGN oleh Kejagung, Ada Dugaan Kasus Besar?

Sejalan dengan pesan tersebut, Amartha melihat bahwa masa depan pertumbuhan inklusif tidak hanya ditentukan oleh perluasan akses keuangan, tetapi juga oleh kemampuan ekosistem untuk membantu masyarakat akar rumput menjadi lebih produktif, adaptif, dan tangguh secara finansial.

0 Komentar