Dari Limbah Jadi Cuan, Minyak Jelantah Kini Bernilai Ekonomi: Rp 5.500 per Liter

Dari Limbah Jadi Cuan, Minyak Jelantah Kini Bernilai Ekonomi: Rp 5.500 per Liter.
UCollect Box yang bisa digunakan untuk membuang jelantah bagi warga di Taman Sari, Kota Bandung.
0 Komentar

Sebagai solusi, Novoleum mengolah minyak jelantah menjadi bahan baku biodiesel dan bioakselerator, sehingga tidak kembali ke rantai konsumsi makanan. Proses ini juga telah mengantongi berbagai sertifikasi, termasuk ISCC, ISO, serta standar CE dan SNI, yang menjamin keamanan dan keterlacakan prosesnya.

Dalam skala operasional, pengumpulan minyak jelantah yang dilakukan Novoleum mencapai 60 hingga 70 ton per bulan dari berbagai wilayah di Indonesia. Jaringan mereka kini tersebar di sejumlah kota, mulai dari Palembang, Jabodetabek, Bandung, hingga Bali.

Meski demikian, Tharesa mengakui bahwa tantangan terbesar masih terletak pada kebiasaan masyarakat. Volume minyak yang dikumpulkan dari rumah tangga cenderung kecil, sementara kontribusi terbesar justru datang dari sektor Horeca.

Baca Juga:BMKG Merilis Prakiraan Cuaca Jabar Sepekan ke Depan, Kilat hingga Angin Kencang Mengintai BandungOperasional Haji 2026 Dimulai, Menhaj Lepas Kloter Pertama

“Makanya kami juga mengajak pelaku usaha untuk ikut beralih ke pengelolaan yang lebih berkelanjutan,” katanya.

UCollect Box ini berada di halaman Moxy Hotel. Untuk menggunakannya diperlukan aplikasi yang akan terhubung dengan boks ini. Pengguna hanya tinggal scan dan menuangkan minyak jelantah ke dalam box tersebut.

Nantinya, di layar box akan tertulis berapa banyak yang dihasilkan dan akan terhubung juga ada aplikasinya.

Di sisi lain, perubahan perilaku mulai terlihat dari masyarakat. Hal ini dirasakan langsung oleh Nia, warga Plesiran, Taman Sari, yang baru pertama kali mencoba menyetor minyak jelantah. Ia mengaku awalnya tidak menyangka prosesnya semudah itu.

“Mudah, kirain susah, tinggal download, scan, masukin minyaknya, nanti langsung kelihatan saldonya,” ujar Nia.

Sebelumnya, ia biasa membuang minyak jelantah begitu saja atau menyimpannya dalam botol bekas tanpa tujuan jelas. Bahkan, ia sempat khawatir membuangnya ke saluran air karena takut menyebabkan penyumbatan.

“Kalau sekarang jadi tahu, ternyata bisa dimanfaatin. Tadi saya bawa setengah liter dulu, nanti mau kumpulin lagi,” katanya.

RENDIKA MARFIANSYAH.

0 Komentar