PASUNDANEKSPRES.CO-Ada momen tak terduga saat Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkunjung ke Kabupaten Sumendang, beberapa waktu lalu.
Pada malam hari, Dedi Mulyadi bertemu dengan pria lansia duduk termenung di teras saung di tengah sawah seorang diri.
Saat didatangi, Dedi Mulyadi mendapati fakta memilukan yang dialami pria lansia tersebut.
Baca Juga:BMKG Merilis Prakiraan Cuaca Jabar Sepekan ke Depan, Kilat hingga Angin Kencang Mengintai BandungOperasional Haji 2026 Dimulai, Menhaj Lepas Kloter Pertama
Hal itu membuat Dedi Mulyadi berniat memberikan uang Rp 5 juta sebagai bantuan namun dengan syarat agar ia menjelekkan namanya.
Meski dalam kondisi kesulitan ekonomi, pria lansia itu memilih menolak tawaran Dedi Mulyadi tersebut.
Diketahui pria lansia tersebut bernama Sadri Suhaendi.
Ia hidup sebatang kara di sebuah gubuk kecil atau saung di Desa Guntur Mekar, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang.
Ternyata pria lansia kelahiran tahun 1942 (84 tahun) akrab disapa Abah Sadri itu pun tinggal menumpang di saung tersebut yang dipinjamkan tetangganya lantaran ia tak memiliki rumah.
Di usia senjanya, Abah Sadri harus menjalani hidup dengan keterbatasan fisik, mata kanannya sudah tidak bisa melihat akibat katarak, sementara mata kirinya pun mulai remang-remang.
Kisah Hidup
Siapa sangka, pria lansia hidup sebatang kara ini dulunya seorang sopir truk ekspedisi yang cukup sukses di Bandung pada era 1960-an hingga 1988.
Abah Sadri mengaku pada masa-masa ia memegang proyek pemerintah untuk penyuluhan tanaman vanili, sebuah masa di mana ia memiliki penghasilan besar dan relasi yang luas.
Baca Juga:Setelah 22 Tahun Lebih, UU PPRT Disahkan, Bukti Keberpihakan Pemerintah Melindungi Pekerja KecilDedi Mulyadi Bakal Kirim 9 Siswa SMAN 1 Purwakarta yang Ledek Guru ke Barak Militer Juni Nanti
Namun, roda kehidupan berputar. Abah Sadri menggambarkan kehancurannya sebagai sebuah “tsunami” rumah tangga.
Akibat pengaruh halusinasi dan bisikan gaib, ia mengaku pernah berjalan kaki sangat jauh hingga ke Cileunyi, yang kemudian berujung pada kebangkrutan.
Keadaan diperparah dengan pengkhianatan dari istri mudanya yang menguras harta dan merusak barang-barangnya, hingga akhirnya anak-anak dari istri mudanya pun tidak lagi mengakuinya sebagai ayah.
Diuji di Tengah Kemiskinan
Kisah Bah Sadri menjadi sorotan saat Dedi Mulyadi menyamar sebagai pria bernama Haji Udin dari Majalengka.
Di tengah kondisi Abah Sadri yang tidak memiliki uang sepeser pun untuk makan, Dedi Mulyadi memberikan tawaran yang menggiurkan sekaligus menguji prinsip hidupnya.
