PASUNDANEKSPRES.CO – Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, Irvan Alamsyah menegaskan bahwa Dinas Sosial Kota Bandung terus memperkuat penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) melalui berbagai program rehabilitasi sosial yang terintegrasi.
Irvan menjelaskan, penanganan PMKS dilakukan mulai dari proses asesmen, penjangkauan, hingga pemulihan sosial.
Program yang dijalankan mencakup bimbingan sosial bagi keluarga, anak, serta penyandang disabilitas.
Baca Juga:Letjen Robi Herbawan Resmi Jadi Kabais TNI, Gantikan Yudi AbdimantyoSatgas Haji Tunda Keberangkatan 80 WNI, Tekan Praktik Haji Nonprosedural
“Kalau di bidang rehabilitasi sosial, program utama kami tentu asesmen dan penyaluran sosial. Selain itu ada bimbingan sosial untuk keluarga, anak, hingga penyandang disabilitas,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Bidang Rehabilitasi Sosial juga didukung oleh UPTD Rumah Singgah.
Tempat tersebut menjadi lokasi penanganan sementara bagi PMKS hasil penjangkauan gabungan bersama lintas OPD, Satpol PP, Damkar, aparat kewilayahan, dan unsur lainnya dalam rangka penataan dan beautifikasi Kota Bandung.
Di rumah singgah, PMKS mendapatkan layanan pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, obat-obatan, layanan kesehatan, administrasi kependudukan, pendidikan anak, hingga rujukan lanjutan.
Selain itu, Dinsos Kota Bandung juga sempat menjalankan program bimbingan fisik dan mental (Bintalsik) bekerja sama dengan Kodim.
Program tersebut menyasar PMKS hasil penjangkauan untuk mendapatkan pembinaan selama 14 hari di rumah singgah.
Tak hanya itu, perhatian terhadap penyandang disabilitas juga terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor.
Baca Juga:DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Ponpes, Bakal Panggil Kementerian TerkaitSukses Ekonomi Haji 2026 Lewat Oleh-Oleh, Bumbu, hingga Ready to Eat Indonesia
Dinsos Kota Bandung saat ini tengah mengembangkan kajian terkait daycare inklusif bagi penyandang disabilitas, sejalan dengan arahan Wali Kota Bandung.
Program tersebut turut melibatkan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat Kota Bandung (RBM), relawan sosial, PKK, Karang Taruna, TKSK, hingga aparat kewilayahan
Menurut Irvan, tantangan terbesar saat ini adalah masih adanya keluarga yang menyembunyikan anggota keluarganya yang menyandang disabilitas. Akibatnya, penanganan sering terlambat dilakukan.
“Masih ada yang di-hide oleh keluarga. Padahal deteksi dini itu penting supaya penanganannya tepat,” katanya.
Ia mencontohkan, terdapat sejumlah kasus warga yang selama ini dianggap mengalami gangguan jiwa, namun setelah diperiksa oleh tenaga kesehatan dan psikolog ternyata merupakan penyandang disabilitas mental dengan kebutuhan penanganan khusus.
