Lagu Bupati Purwakarta Viral, Ini Alasan "Lalaki Langit Lalanang Bejat" Tuai Kontroversi

Lagu Bupati Purwakarta Viral
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein.
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Lagu Bupati Purwakarta viral di berbagai platform media sosial setelah lirik lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” menjadi perbincangan publik. Lagu tersebut merupakan karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein.

Perbincangan mengenai lagu ini semakin meluas setelah sejumlah tokoh publik dan warganet mengkritik isi liriknya yang dinilai mengandung stereotip terhadap perempuan. Akibatnya, potongan video maupun lirik lagu tersebut ramai dibagikan di berbagai media sosial.

Mengapa Lagu Bupati Purwakarta Viral?

Viralnya lagu ini bermula ketika lagu tersebut dipentaskan dalam sebuah kegiatan budaya di Purwakarta. Tak lama kemudian, potongan liriknya menyebar di media sosial dan memicu beragam respons dari masyarakat.

Baca Juga:Pedagang di Puncak yang Digusur Dijanjikan Modal Rp10 Juta dan Peluang Kerja oleh Dedi MulyadiJadwal Pertandingan Brasil vs Haiti di Piala Dunia 2026

Sebagian masyarakat menganggap lagu tersebut hanya berupa satire atau humor khas Sunda. Namun, tidak sedikit pula yang menilai beberapa liriknya kurang pantas karena membandingkan pengalaman laki-laki dan perempuan dengan cara yang dianggap merendahkan perempuan.

Kritik dari Atalia Praratya

Kontroversi semakin mencuat setelah Atalia Praratya menyampaikan kritik melalui media sosial. Menurutnya, isi lagu tersebut tidak mencerminkan nilai budaya Sunda yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap perempuan.

Ia menilai bahasa Sunda memiliki banyak kosakata yang indah dan sarat pesan moral sehingga seharusnya dapat digunakan untuk menyampaikan karya yang lebih positif tanpa menyinggung kelompok tertentu.

Isi Lirik yang Dipermasalahkan

Beberapa bagian lirik lagu mengungkapkan rasa syukur karena terlahir sebagai laki-laki, kemudian membandingkannya dengan pengalaman biologis perempuan, seperti menstruasi, penggunaan bra, hingga kehamilan remaja.

Bagian-bagian tersebut kemudian menjadi sorotan karena dianggap memperkuat stereotip gender dan menjadikan pengalaman perempuan sebagai bahan candaan.

Sementara itu, sebagian pihak berpendapat bahwa lagu tersebut merupakan bentuk ekspresi seni yang tidak dimaksudkan untuk menghina perempuan.

Respons Warganet

Di media sosial, tanggapan masyarakat terbagi menjadi dua kubu. Sebagian pengguna internet menganggap lagu tersebut hanya hiburan dengan gaya humor khas daerah.

Baca Juga:Nonton Mahkota Tersembunyi Drama China Sub Indo Full EpisodeNonton Peramal Harta Legendaris Drama China Sub Indo Full Episode

Namun, kelompok lainnya menilai seorang kepala daerah seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan melalui karya seni karena berpotensi memengaruhi opini publik.

0 Komentar