Kenaikan Harga Plastik Ikut Hambat Distribusi Minyakita dan Beras Bantuan di Jawa Barat

Kenaikan Harga Plastik Ikut Hambat Distribusi Minyakita dan Beras Bantuan di Jawa Barat.
ALAMI KENAIKAN - Minyakita di pasar tradisional di Kota Bandung. Terkini, kenaikan harga plastik sempat menghambat distribusi Minyakita di sejumlah daerah di Jawa Barat.
0 Komentar

PASUNDANEKSPRES.CO – Kenaikan harga plastik sempat menghambat distribusi Minyakita di sejumlah daerah di Jawa Barat.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani, mengatakan stok Minyakita sebenarnya dalam posisi aman.

Keterlambatan distribusi Minyakita dan beras dari bantuan bahan pokok (bapok) dari pemerintah pusat beberapa waktu lalu, kata dia, disebabkan masalah kemasan atau plastik pembungkus.

Baca Juga:Link UMKM BRI Dorong Perempuan Pengusaha Fesyen Naik Kelas, Olah Wastra Nusantara Jadi Busana ModernKemenag Siapkan Afirmasi dan Beasiswa untuk Peningkatan Mutu Pendidikan Tinggi Pesantren

“Pasokan sebenarnya Minyakita aman, kuota cukup sesuai kebutuhan Jawa Barat. Kesulitan di kemasan plastik, jadi agak terhambat kecepatannya. Tapi sekarang sudah bisa teratasi,” ujar Nining, Senin (13/4/2026).

Nining tak menampik, akibat keterlambatan itu sempat terjadi kenaikan harga Minyakita di pasar yang sedikit melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yakni, Rp15.700 per liter.

“Posisi naiknya enggak terlalu tinggi banget kalau dari HET Rp15.700. Kami lihat masih di angka Rp15.800 sampai Rp15.900 per liter. Kami mengindikasikan ini karena delay pasokan kemasan. Kami segera mengecek ke Bulog dan ID Food,” katanya.

Nining menegaskan bahwa prioritas Minyakkita untuk masyarakat menengah ke bawah, sehingga distribusinya ke pasar-pasar tradisional agar masyarakat mendapatkan akses bahan pokok dengan harga terjangkau.

“Kami prioritaskan tetap di pasar tradisional. Kami berharap Minyakita ini bisa memenuhi kebutuhan konsumen utama untuk masyarakat menengah bawah,” ucapnya.

Sementara itu, pasokan kuota Minyakkita untuk Jawa Barat, kata Nining, sangat bergantung pada besaran ekspor Crude Palm Oil (CPO) secara nasional melalui kebijakan Domestic Market Obligation (DMO). Namun, rata-rata pasokan Minyakita untuk Jabar sekitar 23.000 liter per bulan.

“Tidak bisa kami pastikan setiap bulan, bergantung pada posisi ekspor CPO. Jadi nanti ada ketentuan berapa kewajiban DMO untuk disebar ke seluruh wilayah Indonesia,” ucapnya.

RENDIKA MARFIANSYAH.

0 Komentar