PASUNDANEKSPRES.CO – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memberikan respons soal kenaikan harga Gas LPG yang sedang terjadi.
Diberitakan sebelumnya, sejumlah komoditas, mulai dari BBM, plastik dan kini Gas LGP tengah mengalami kenaikan harga.
Harga LPG tabung 12 kg non-subsidi kini mengalami kenaikan sekitar 18,75 persen menjadi Ro 228.000. Sementara itu LPG non-subsidi tabung 5,5 kg kini mencapai harga Rp 107.000.
Baca Juga:Kemlu: Usulan Izin Terbang Militer AS Masih Dikaji, Kedepankan Politik Bebas AktifKKP Bikin Terobosan, Bakal Olah Ikan Sapu-sapu Jadi Pupuk Organik dan Pakan Ternak
Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menjelaskan kenaikan harga LPG juga dipengaruhi dinamika global seperti konflik di Timur Tengah.
Ia juga menjelaskan bahwa kenaikan harga LPG tersebut berpotensi memicu perubahan perilaku konsumsi masyarakat.
Terutama bagi penggunaan LPG non-subsidi oleh sektor usaha yang berdampak pada peningkatan biaya.
Terkait kenaikan harga LPG ini, Dedi Mulyadi sempat memberikan pernyataan. Ia menjelaskan bahwa kebijakan kenaikan harga LPG itu ada pada kewenangan pemerintah pusat.
“Kan kalau LPG dari segi energi kan kebijakannya pemerintah pusat,” ujar Dedi Mulyadi dikutip dari unggahan di Instagram pribadinya, Selasa (21/4/2026).
Meski begitu, Dedi Mulyadi memberikan saran alternatif bagi masyarakat.
Jika masyarakat terbebani dengan kenaikan harga LPG tersebut maka bisa menggunakan energi alternatif yang lainnya
Seperti kayu bakar, biogas dari kotoran sapi hingga sampah.
“Jadi kita harus berusaha untuk menyesuaikan dengan tingkat kemampuan kita dan kebutuhan kita. Saya meyakini warga Jawa Barat dan Indonesia ini warga yang inovatif,” ujarnya.
Kemandirian Energi Ala Dedi Mulyadi
Baca Juga:Keberangkatan Perdana Petugas Haji 2026, Wamen Dahnil Tekankan Kesiapan Mental PPIHHadiah Ultah Dedi Mulyadi, Dukung Ensiklopedia Sunda ke Panggung Dunia
Sebelumnya, di tengah isu kelangkaan energi, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menunjukkan langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian pangan dan energi di kediamannya, Lembur Pakuan.
Hal ini diungkapkan Dedi Mulyadi dalam tayangan terbaru di Youtube Lembur Pakuan, Selasa (7/4/2026) lalu.
Saat menerima kunjungan dari tokoh-tokoh organisasi Mathla’ul Anwar, Dedi memamerkan sistem pengelolaan limbah ternak yang mampu menyuplai kebutuhan gas dapur warga sekitar secara cuma-cuma.
Ia menjelaskan bahwa konsep hidupnya adalah “berlatih tinggal di surga” dengan menjaga keselarasan alam, kebersihan, dan kemandirian.
Di lahan seluas puluhan hektar itu, Dedi Mulyadi mengelola 200 ekor sapi dan ratusan domba Garut dalam lingkungan yang sangat terjaga kebersihannya.
