‘Pamali’ sebagai Teknologi Konservasi Termurah
Saat berdiskusi, Dedi Mulyadi menarik poin keunikan Pamali yang dimiliki peradaban Sunda sebagai konsep ”Peradaban Tak Berbiaya”.
Gubernur Jabar itu menyoroti bagaimana leluhur Sunda menjaga lingkungan melalui mistifikasi atau “pamali”
Jika ditarik dalam perilaku manusia atau sosiologi, menurut Dedi Mulyadi bahwa konsep pamali tersebut digunakan leluhur sebagai cara melindungi dan menjaga alam.
Selain itu, menurutnya konsep pamali juga menjadi teknologi konservasi termurah.
Baca Juga:Pramono Bantah Izinkan Halte di Jakarta Pakai Nama Parpol: Enggak Lah, Saya BercandaGurihnya Tata Kelola Tambang Nikel, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Resmi Jadi Tersangka
“Dulu, mata air dijaga dengan cerita ada kuntilanak atau kelong. Orang jadi takut merusak. Itu adalah cara murah menjaga lingkungan tanpa perlu undang-undang rumit atau biaya triliunan,” ujarnya.
Dengan menciptakan narasi adanya “penunggu” (seperti kuntilanak atau kalong wewe) di mata air atau pohon besar, masyarakat menjadi takut untuk merusak lingkungan.
Dengan kata lain, hanya dengan memberikan rasa takut, masyarakat menghindari yang dilarang. Meski tujuannya demi menjaga alam.
Kemudian Dedi Mulyadi membandingkan dengan kondisi saat ini, di mana hutan dan laut yang dijaga oleh hukum formal justru sering kali rusak karena aturannya bisa “dinegosiasikan”.
Prof. Bagus dan Dedi Mulyadi juga menyinggung pasal-pasal sebagai hukum tertulis yang saat ini digunakan hampir seluruh dunia justru berada di level bawah hukum alam.
Prof. Bagus justru mengungkap bahwa selama ini level hukum yang tertinggi sejatinya berasal dari pembicaraan (obrolan, diskusi hingga perdebatan).
Menurutnya bahwa tingkatan tertinggi sistem hukum adalah kesadaran moral.
‘Rasa’ Bertemu Sains Modern
Prof Bagus menjelaskan bahwa tatar Sunda memiliki keunikan di mana selalu melibatkan rasa di kedalaman kehidupannya.
Baca Juga:Pengembangan CitraRaya Tangerang Berlanjut dengan Pilihan Kavling di Kawasan TerpaduPanglima TNI Pastikan Misi Prajurit UNIFIL di Lebanon Berakhir Mei 2026

Meski berbasis pada “rasa”, Prof. Bagus menekankan bahwa pengetahuan lokal Sunda ini sangat saintifik.
Ia menyebutkan bahwa metodologi tradisional Sunda dalam menata kota dan memitigasi bencana terbukti kompatibel (selaras) dengan jurnal-jurnal ilmiah modern, termasuk dalam memprediksi tanah longsor dan pengelolaan air tanah.
Mengenai hal itu, Dedi Mulyadi pun setuju dan menjelaskan bagaimana masyarakat Sunda memilih bambu sebagai identitas peradaban (untuk bangunan, perkakas, hingga alat seni) karena alasan teologis dan sosiologis.
