Hadiah Ultah Dedi Mulyadi, Dukung Ensiklopedia Sunda ke Panggung Dunia

Hadiah Ultah Dedi Mulyadi, Dukung Ensiklopedia Sunda ke Panggung Dunia.
GEBRAKAN DEDI MULYADI: Dedi Mulyadi saat berdiskusi dengan Prof Bagus Muljadi yang memberinya hadiah Ensiklopedia Sunda. - Dedi Mulyadi siap dukung penerjemahan Ensiklopedia Sunda dikenalkan ke panggung dunia.
0 Komentar

Penggunaan bambu memastikan siklus alam tetap terjaga tanpa deforestasi, karena bambu akan tumbuh kembali setelah dipotong.

Meskipun pengetahuan leluhur Sunda banyak berasal dari aspek “rasa”, Prof. Bagus menekankan bahwa hal tersebut sangat kompatibel (selaras) dengan nalar dan sains modern.

Prof. Bagus pun mencontoh metodologi tradisional Sunda terbukti prediktif dalam jurnal ilmiah untuk memprediksi tanah longsor.

Baca Juga:Pramono Bantah Izinkan Halte di Jakarta Pakai Nama Parpol: Enggak Lah, Saya BercandaGurihnya Tata Kelola Tambang Nikel, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Resmi Jadi Tersangka

Ia juga mencontohkan cara masyarakat Sunda mengenai penataan kota berdasarkan mata air dan “tatan jala” sangat efektif untuk mitigasi emisi karbon dan pengaturan air tanah.

Sains, Hal Mistis dan Ketuhanan

Prof. Bagus juga membahas mengenai asimilasi Sunda dan Teologi (ilmu ketuhanan) terutama terkait jaran Islam.

Menurutnya di bandingkan daerah-daerah lainnya seperti di Pulau Jawa, budaya egaliter (pandangan dan sikap terhadap persamaan derajat, hak, dan kesempatan bagi setiap individu, tanpa memandang perbedaan status sosial, ekonomi, ras, atau gender) untuk tauhid sangat subur.

“Karena di dalam Sunda itu sendiri sudah mengakui ada Keesaan, ada Sanghyang Tunggal, jadi itu lebih mudah asimilasi, karena tidak ada tingkatan manusia atau kasta,” ungkap Prof. Bagus.

Mengenai hal itu, Dedi Mulyadi tampak setuju dan ia menambahkan bahwa adapun istilah priayi, menak hingga raden di Sunda hal itu terjadi setelah ada pengaruh kekuasaan pasca Kerajaan Pejajaran runtuh.

Kemudian Prof. Bagus kembali membahas bahwa Sunda selalu melibatkan rasa yang dipengaruhi ajaran Hindu, Budha, tarekat termasuk tasawuf.

Menurutnya pelibatan rasa tersebut menjadi filosofi masyarakat Sunda akan selaras dengan alam.

Baca Juga:Pengembangan CitraRaya Tangerang Berlanjut dengan Pilihan Kavling di Kawasan TerpaduPanglima TNI Pastikan Misi Prajurit UNIFIL di Lebanon Berakhir Mei 2026


Namun, ia menyayangkan rasa yang dimiliki Sunda itu belum dikanankan atau dituangkan dalam Bahasa Sains.

“Kadang di masyarakat yang notabene modern, sering dianggap kurang selaras dengan sains, tapi dalam proyek ini, kita melihat rasa penasaran mereka terhadap alam dibuktikan dalam jurnal saintifik modern,” ujar Prof. Bagus.

Kemudian Prof. Bagus mengutip Albert Einstein yang menyatakan bahwa hal terindah yang bisa dilakukan manusia adalah bergumul dengan yang misterius, yang mana merupakan tujuan utama dari sains.

0 Komentar