PASUNDANEKSPRES.CO – Pelemahan rupiah yang disebut menembus Rp 17.656 per dolar AS mendapat sorotan dari Ida Nurlaela Wiradinata anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.
Ida menilai kondisi tersebut bukan sekadar persoalan pasar keuangan, melainkan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama di pedesaan.
“Rakyat desa memang tidak memakai dolar, tetapi setiap kenaikan kurs terasa di harga sembako dan biaya hidup. Negara harus hadir menjaga stabilitas ekonomi rakyat sampai ke desa,” ujar Ida melalui seluler, Rabu (20/5/2026) siang.
Baca Juga:2 Agenda Penting Prabowo, Hadiri Rapat Paripurna DPR dan Forum Migas ASEAN di IPA Convex 20262 PRT Ajukan Perlindungan ke LPSK Usai Diduga Dianiaya Majikan di Jaksel
Tekanan nilai tukar rupiah turut memukul pelaku usaha kecil yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Produsen tahu, tempe, roti hingga susu olahan kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menanggung kenaikan biaya produksi atau membebankannya kepada konsumen.
“Kenaikan biaya impor dan distribusi berpotensi menekan pelaku UMKM, koperasi, serta rantai distribusi pangan yang menjadi tulang punggung ekonomi desa,” katanya.
Ida meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tengah gejolak ekonomi global.
Ia pun mendorong pemerintah memastikan distribusi pangan tetap lancar hingga pelosok desa, memberikan perlindungan terhadap UMKM dan koperasi, serta mengoptimalkan peran BUMN sektor pangan dan distribusi sebagai penyangga harga.
“Negara perlu memastikan stabilitas harga, kelancaran distribusi, dan perlindungan terhadap pelaku usaha kecil agar gejolak global tidak berubah menjadi beban ekonomi rakyat di tingkat akar rumput,” ucap Ida.
Menurut Ida, Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor sejumlah komoditas strategis, seperti gandum yang masih sepenuhnya diimpor, kedelai lebih dari 80 persen, bawang putih mencapai 98 persen, susu sekitar 80 persen, serta gula industri sekitar 3 hingga 3,5 juta ton per tahun.
Baca Juga:Polda Jabar Bongkar Kasus Penipuan Dapur MBG, Jual Titik Koordinat SPPG Palsu Hingga Rp150 JutaKata-kata Marc Klok Buat Bobotoh Merinding, Bawa Persib Selangkah Lagi Juara
Ida menilai pelemahan rupiah membuat biaya pengadaan berbagai komoditas itu meningkat dalam waktu singkat.
Kondisi itu diperparah dengan konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu kenaikan biaya logistik, premi asuransi pengiriman, hingga tarif transportasi laut.
“Ketika rupiah melemah tajam, biaya pengadaan semua komoditas itu pasti langsung membengkak dalam hitungan hari,” ucapnya.
R.
